(Taiwan, ROC) -- Parlemen Federal Belgia pada Kamis (20/3) mengesahkan resolusi yang menyatakan keprihatinan atas meningkatnya ancaman Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terhadap Taiwan. Resolusi tersebut mendesak pemerintah Belgia untuk mengecam sikap Negeri Panda yang semakin agresif terhadap Taiwan melalui jalur diplomatik, serta menegaskan bahwa Resolusi No. 2758 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengambil posisi terkait Taiwan. Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan pada hari ini (21/3) menyatakan bahwa ini adalah kali pertama Parlemen Federal Belgia mengeluarkan resolusi yang mengecam ancaman Negeri Tirai Bambu terhadap Taiwan, yang memiliki makna penting bagi perkembangan hubungan Taiwan-Belgia.
Komisi Eropa dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan pada Rabu (19/3) menyatakan bahwa dokumen tersebut sangat menyoroti keprihatinan terhadap ekspansi militer RRT yang pesat. Disebutkan pula jika Negeri Panda tengah memperkuat tekanan terhadap Taiwan melalui tindakan koersif di bidang politik, ekonomi, militer, dunia maya, dan perang kognitif. Dokumen tersebut menegaskan bahwa perubahan status quo di Selat Taiwan dapat menyebabkan gejolak besar dan berdampak signifikan terhadap perekonomian, serta strategi di Eropa.
MOFA menunjukkan bahwa pada KTT Pemimpin Uni Eropa pada Juni 2023, untuk pertama kalinya kesimpulan pertemuan tersebut memasukkan pernyataan yang menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan, dan menentang segala upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan. Hal ini menegaskan bahwa menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan telah menjadi konsensus di antara 27 negara anggota Uni Eropa.
Selain itu, setelah RRT menggelar dua kali latihan militer “Joint Sword” terhadap Taiwan pada tahun lalu (2024), Departemen Luar Negeri Uni Eropa juga mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan memiliki arti strategis bagi keamanan dan kemakmuran kawasan serta dunia. Uni Eropa memiliki kepentingan langsung dalam menjaga status quo di Selat Taiwan.
Selain Uni Eropa, lembaga legislatif negara-negara Eropa juga terus menyatakan sikap mereka. Perkembangan terbaru terlihat dengan disahkannya resolusi oleh Parlemen Federal Belgia, yang meminta RRT untuk meredakan ketegangan, menghentikan segala provokasi, dan menghormati status quo di Selat Taiwan. Resolusi tersebut juga menyebutkan jika Resolusi No.2758 Majelis Umum PBB tidak mengambil posisi terkait Taiwan, dan mendesak pemerintah Belgia untuk menjelaskan posisi ini dengan jelas di PBB.
Pemerintah kami selalu mengucapkan terima kasih dan menyambut baik perhatian yang diberikan oleh masyarakat internasional terhadap situasi di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik. Kami juga menegaskan bahwa kami akan terus bekerja sama dan berdialog dengan mitra-mitra yang memiliki prinsip serupa untuk bersama-sama membela nilai-nilai kebebasan dan demokrasi.
MOFA Taiwan menyampaikan, Parlemen Federal Belgia sebelumnya telah mengesahkan resolusi persahabatan dengan Taiwan pada November 2015 dan Juli 2020. Kali ini, mereka untuk kali pertama mengesahkan resolusi yang mengecam ancaman RRT terhadap Taiwan. Ini juga merupakan resolusi pertama yang disahkan oleh parlemen yang baru setelah dibuka pada Juli tahun lalu. Menteri Luar Negeri Taiwan, Lin Chia-lung (林佳龍) mengucapkan terima kasih kepada Parlemen Federal Belgia atas dukungannnya, serta menekankan bahwa MOFA ke depannya akan terus memperdalam pertukaran dan hubungan kerja sama yang substansial dan persahabatan dengan Belgia, berlandaskan dasar yang sudah baik.