(Taiwan, ROC) – TSMC dilaporkan akan kembali berinvestasi di Amerika Serikat (AS) dengan nilai setidaknya sebesar 100 miliar dolar AS. Presiden Lai Ching-te (賴清德) dan Chairman TSMC, C. C. Wei (魏哲家) pada Kamis kemarin (6/3) bersama-sama tampil untuk menjelaskan beberapa isu penting yang menjadi perhatian publik, seperti bagaimana mempertahankan daya asing inti industri semikonduktor Taiwan, apakah menghadapi tekanan politik, serta apakah investasi ini akan mengorbankan rencana investasi di Taiwan. Presiden Lai menegaskan bahwa tidak ada tekanan dari pihak AS.
Namun, partai oposisi tetap meragukan pernyataan tersebut. Mereka mempertanyakan apakah kebijakan tarif 100% yang diterapkan oleh AS serta perang chip yang berlangsung bukanlah bentuk tekanan terhadap Taiwan.
Terkait hal ini, Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) dalam sebuah wawancara sebelum menghadiri sidang interpelasi kebijakan di Yuan Legislatif pada hari ini (7/3), menyatakan bahwa Chairman TSMC C. C. Wei (魏哲家) telah menjelaskan bahwa rencana produksi TSMC di Taiwan tidak akan berubah dan bahkan akan terus meningkat. Selain itu, proyek-proyek yang telah direncanakan maupun yang baru di berbagai kota di Taiwan juga terus berjalan. Sebagai industri terpenting bagi Taiwan, TSMC tetap menjadikan Taiwan sebagai basis produksi utama serta pusat penelitian dan pengembangan. PM Cho berharap masyarakat dapat bersatu dalam mendukung kebijakan publik.
PM Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan, “Marilah jadikan masyarakat kita sebagai lingkungan yang kondusif untuk investasi, produksi, dan manufaktur, dengan hubungan ketenagakerjaan yang stabil serta kebijakan energi yang memadai. Saya meyakini jika dalam jangka panjang, Taiwan dapat terus mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi penting di kancah internasional, serta memastikan peran krusial dalam rantai industri global. Ini adalah target yang tidak hanya bisa kita raih, tetapi juga harus kita wujudkan.”
Selain itu, anggota parlemen AS menyatakan bahwa pemotongan anggaran pertahanan beresiko. Namun, menurut analis media asing, Presiden AS Donald Trump merasa penjualan senjata sebagai transaksi bisnis, bukanlah sebagai jaminan keamanan, sehingga Taiwan mungkin akan dipaksa untuk membeli persenjataan.
Menanggapi hal tersebut, PM Cho mengemukakan bahwa negara kita harus diselamatkan oleh kita sendiri. Dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada semua sahabat internasional yang peduli terhadap keamanan di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, serta terus memberikan perhatian dan dukungan nyata bagi perkembangan masa depan Taiwan.
PM Cho menegaskan, Republik Tiongkok adalah negara yang berdaulat dan independen. Dengan mempertimbangkan kebutuhan pertahanan nasional dan kemandirian dalam pertahanan, Taiwan akan terus berupaya meningkatkan kemampuan tempur militernya secara keseluruhan. Selain itu, pemerintah juga akan mempertimbangkan stabilitas keuangan negara dalam mengambil keputusan untuk membeli dan menambah berbagai peralatan militer canggih dari negara-negara lain. Namun, ia menegaskan bahwa Taiwan tidak menerima tekanan dari negara manapun, jikalau pun ada, maka itu juga untuk menghadapi ancaman dari Tiongkok, sehingga Taiwan harus memperkuat dirinya sendiri. PM Cho menyebutkan, ada dua jenis perdamaian; satu adalah kita cukup kuat, dan satunya lagi adalah kita menyerah. Taiwan memilih untuk menjadi negara yang lebih kuat.