(Taiwan, ROC) Perayaan tahun baru Imlek hari ke-2, menjadi tradisi bagi masyarakat Tionghoa yang telah menikah untuk pulang ke rumah orang tua (pihak istri), agar orang tua bisa bertemu dengan cucu-cucu mereka dan merasakan kebersamaan dalam perayaan tahun baru Imlek. Dengan kehadiran anggota baru, meskipun menambah beban ekonomi keluarga akan tetapi juga memberikan kebahagiaan. Jika mendambakan kebahagiaan seperti demikian, Direktorat Promosi Kesehatan Nasional mengingatkan, “usia” mungkin menjadi faktor pengaruh terbesar, “kedokteran” menjadi tim pendukung penting, sedangkan “gender” tidak seharusnya menjadi hal yang dibatasi.
Masyarakat modern lebih terlambat berkeluarga, sehingga terlambat melahirkan anak menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari, menurut data demografi 2023 dari Kementerian Dalam Negeri, untuk rata-rata usia wanita yang melahirkan adalah 32,44 tahun, diantaranya lebih dari 30% berusia di atas 35 tahun (31,97%), 10 tahun yang lalu yakni tahun 2013 mencatat 21,95%, dengan skala peningkatan 1,5 kali lipat.
Berdasarkan penelitian kedokteran, seiring dengan pertambahan usia, kemampuan ovarium dan kualitas sel telur secara bertahap menurun, juga menyebabkan sulit terjadi pembuahan, kelainan kromosom pada embrio juga semakin meningkat. Selain risiko melahirkan pada usia tua, semakin banyak warga yang mengalami permasalahan kesuburan, ingin memiliki anak namun bermasalah.
Menurut pakar pengobatan reproduksi Taiwan, setiap 7 pasangan terdapat 1 pasangan suami istri mengalami masalah infertilitas. Direktur Jenderal Promosi Kesehatan Nasional Wu Chao-chun (吳昭軍) mengimbau, generasi muda semestinya merencanakan pernikahan dan kehamilan lebih awal, dengan usia subur yang ideal berkisar 25-35 tahun.
Saat ini, sebagian besar orang berpegang pada konsep anak laki-laki dan anak Perempuan sama baiknya, akan tetapi masih ada sebagian orang masih beranggapan dengan gender kandungan sebelumnya, berharap bisa meneruskan generasi, sesuai harapan orang tua, maka mencoba menggunakan teknologi untuk memilih gender bayi agar keinginan diri atau keluarga untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan dapat berpenuhi. Ditjen Promosi Kesehatan Nasional menekankan, “anak perempuan dan laki-laki semuanya sama, dan semua anak yang dilahirkan adalah harta karun”, kesetaraan gender semestinya berawal sejak dalam kandungan. Wakil Kepala Divisi Urusan Kesehatan Ibu dan Anak Ditjen Promosi Kesehatan Nasional, Tsai Way-yi (蔡維誼) mengatakan, “selama proses bayi tabung berjalan, beberapa embrio akan dibelah sebelum implantasi. Untuk mendeteksi apakah ada genetik terkait penyakit pautan seks pada bagian embrio, bisa mendeteksi jenis kelamin, Ditjen Promosi Kesehatan Nasional menekankan bahwa aborsi dilakukan karena ada penyakit pautan seks bukan karena memilih gender dari kandungannya.”
Direktur Jenderal Promosi Kesehatan Nasional Wu Chao-chun (吳昭軍) mengatakan, usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesuburan dan tingkat keberhasilan reproduksi buatan. Jika pasangan tetap tidak hamil setelah melakukan hubungan seks rutin selama lebih dari setahun, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Di sisi lain, pasangan tidak subur juga didorong untuk memanfaatkan subsidi, setelah mendapat evaluasi dari dokter bahwa perlu pengobatan IVF maka untuk pengajuan pertama bisa mendapat subsidi sebesar NT$100.000, setiap janin bisa mendapatkan subsidi pengobatan sebanyak 6 kali.