(Taiwan, ROC) --- Di penghujung tahun penanggalan lunar, ketika lampion merah mulai menghiasi setiap sudut kota, masyarakat Taiwan bersiap menyambut malam Chú Xì (除夕), atau Malam Tahun Baru Imlek.
Bukan sekadar pergantian hari, Chú Xì adalah malam sakral di mana keluarga berkumpul, tradisi dihidupkan, dan harapan baru dipanjatkan. Pada 28 Januari 2025, atau tanggal 30 bulan 12 dalam kalender Lunar, malam Chú Xì menjadi penanda berakhirnya satu siklus dan awal dari babak baru.
Hsieh Yuan-chin (謝沅瑾), Ketua Asosiasi Kebudayaan, Tradisi, dan Feng Shui Tradisional Tionghoa, menegaskan bahwa Chú Xì bukan sekadar malam pergantian tahun, melainkan salah satu hari terpenting dalam tradisi Tionghoa.
Lebih dari sekadar makan malam dan pembagian angpao, malam ini adalah waktu untuk merenungkan perjalanan setahun ke belakang, berterima kasih atas berkah yang diterima, dan memohon perlindungan untuk tahun yang akan datang.
![]()
Malam Chú Xì ditandai dengan serangkaian ritual persembahan yang sarat makna. 圖: EBC NEWS
Ritual Persembahan: Ungkapan Syukur dan Harapan
Malam Chú Xì ditandai dengan serangkaian ritual persembahan yang sarat makna. Masyarakat Tionghoa kuno, seperti yang diungkapkan Hsieh Yuan-chin, akan mempersiapkan sesajian yang melimpah, termasuk hewan kurban, mangkuk sayuran, dan kue-kue, sebagai ungkapan terima kasih kepada dewa-dewi, leluhur, dan Dewa Tanah atas perlindungan mereka selama setahun terakhir.
Sajian melimpah seperti ayam, bebek, ikan, daging, serta "tiga hewan persembahan" menjadi hidangan wajib. 圖:LINETODAY
Berikut adalah delapan tradisi dan kebiasaan yang mewarnai malam Chú Xì:
1. Sembahyang kepada Dewa-Dewi
Persembahan untuk dewa-dewi dan leluhur pada malam Chú Xì tidak main-main. Sajian melimpah seperti ayam, bebek, ikan, daging, serta "tiga hewan persembahan" menjadi hidangan wajib. Tak ketinggalan, empat jenis buah-buahan musiman, kue fa gao dengan empat celah di atasnya (melambangkan kekayaan dari segala penjuru), dan kue keranjang juga turut disajikan.
Kacang tanah (melambangkan umur panjang dan keturunan), buah lengkeng (melambangkan dukungan), pistachio (melambangkan kebahagiaan), serta kacang-kacangan kering lainnya, dan teh atau arak juga menjadi bagian dari persembahan.
2. Sembahyang kepada Leluhur
Chú Xì adalah momen penting untuk menghormati leluhur. Bukan hanya sebagai pengingat asal-usul keluarga, tetapi juga sebagai ungkapan terima kasih atas perlindungan mereka. Persembahan yang disiapkan meliputi daging, mangkuk sayur, dan kue.
Di altar, kue fa gao dan kue keranjang menjadi simbol kemajuan karier, sementara dua mangkuk nasi dengan bunga musim semi (bunga nasi musim semi) melambangkan kemakmuran. Jeruk dan apel juga disajikan sebagai simbol keberuntungan dan kedamaian.
3. Menempelkan Kuplet Musim Semi
Siang hari Chú Xì menjadi waktu untuk mengganti kuplet musim semi di rumah. Kuplet baru melambangkan hilangnya kesialan tahun lalu dan menyambut keberuntungan baru. Namun, bagi keluarga yang sedang berduka, tradisi ini sebaiknya tidak dilakukan.
Siang hari Chú Xì menjadi waktu untuk mengganti kuplet musim semi 春聯 di rumah. 圖: 三立
4. Sembahyang Penjaga Rumah (地基主)
Selain leluhur, Chú Xì juga menjadi waktu untuk menghormati penjaga rumah (dì jī zhǔ). Tradisi ini bisa berbeda-beda tergantung kebiasaan keluarga. Jika tidak ada tradisi sebelumnya, ritual ini tidak wajib dilakukan.
Persembahan untuk dì jī zhǔ biasanya berupa sepasang makanan rumahan, buah-buahan, dua cangkir anggur atau teh, serta kertas emas, dan disarankan untuk menyiapkan dua set mangkuk dan sumpit.
Jika sulit memasak, dua kotak nasi ayam sederhana bisa menjadi alternatif. Arah sembahyang disesuaikan dengan keberadaan pintu atau jendela dapur.
5. Makan Malam Tahun Baru Bersama
Malam Chú Xì adalah momen reuni keluarga. Anak-anak yang bekerja di luar kota akan pulang untuk menikmati hidangan spesial Tahun Baru bersama. Ikan menjadi salah satu hidangan wajib, tetapi tidak boleh dihabiskan sepenuhnya, sebagai simbol kelimpahan sepanjang tahun.
6. Membagikan Angpao
Setelah makan malam, orang tua akan memberikan angpao kepada anak-anak, dan sebaliknya, anak-anak yang sudah bekerja akan memberikan angpao kepada orang tua sebagai tanda terima kasih.
Angpao melambangkan keberuntungan dan kekayaan. Setelah menerima angpao, sebaiknya disimpan di bawah bantal sebagai yā suì qián (uang penangkal roh jahat). Uang ini baru boleh ditabung setelah hari kelima Tahun Baru Imlek.

Angpao melambangkan keberuntungan dan kekayaan. 圖:風傳媒
7. Menjaga Malam (守歲)
Tradisi shǒu suì (menjaga malam) adalah tradisi di mana orang-orang tetap terjaga sepanjang malam Chú Xì. Tujuannya adalah untuk menyambut tahun baru, menghabiskan waktu bersama keluarga, dan sebagai simbol harapan untuk umur yang lebih panjang bagi orang tua.
8. Berjalan Kaki atau Berkendara di Arah Keberuntungan
Setelah makan malam, berjalan kaki atau berkendara ke arah yang dianggap membawa keberuntungan dipercaya dapat menarik energi positif untuk tahun yang akan datang.
Refleksi di Balik Tradisi
Malam Chú Xì bukan sekadar ritual yang dilakukan tanpa makna. Ia adalah cerminan dari nilai-nilai keluarga, rasa hormat, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Di balik setiap tradisi, tersimpan doa dan harapan untuk tahun yang penuh berkah. Memahami tradisi ini adalah kunci untuk merayakan Imlek dengan penuh makna dan kebahagiaan.