(Taiwan, ROC) – Surat Kabar Amerika Serikat “The Hill” mengutip laporan dari dua narasumber yang mengetahui informasi jika mantan Wakil Presiden AS, Mike Pence telah tiba di Taiwan pada Kamis (16/1) untuk kunjungan resmi, dan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Taiwan, Lai Ching-te (賴清德), serta Wakil Presiden Hsiao Bi-khim (蕭美琴).
Menurut laporan, Mike Pence akan memulai agenda kunjungannya pada hari ini (17/1), termasuk bertemu dengan para pemimpin industri teknologi tingkat tinggi. Setelah itu, dirinya akan menggunakan kereta cepat THSR menuju Taipei guna menghadiri kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk menghadiri jamuan makan malam di Taipei Guest House.
Menurut The Hill, Mike Pence baru saja menghadiri forum pemimpin bisnis di Hong Kong dan membagikan jadwal kegiatannya melalui cuitan di jejaring X. Salah seorang narasumber menyebutkan, Mike Pence memutuskan untuk menambahkan kunjungan ke Taipei sebagai bagian dari agendanya untuk “melihat situasi secara langsung” dan mengingatkan rakyat Taiwan bahwa Amerika Serikat (AS) adalah sekutu Taiwan, serta tidak akan membiarkan peristiwa seperti yang terjadi di Hong Kong terulang di Taiwan.
Juru Bicara organisasi kebijakan Pence “Advancing American Freedom”, tidak memberikan tanggapan atas kabar tersebut.
Laporan tersebut juga menunjukkan, Mike Pence pada Agustus tahun lalu pernah menulis opini di The Washington Post, memperingatkan bahwa “ada kencenderungan isolasionisme baru yang mengkhawatirkan di dalam Partai Republik”, yang mendorong gagasan untuk meninggalkan Taiwan dan sekutu lainnya.
Mantan Wakil Presiden AS tersebut dalam tulisannya memperingatkan jika Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mencaplok Taiwan, maka hal tersebut dapat mengacaukan rantai pasok global dan memicu perlombaan senjata nuklir.
Sejak meninggalkan jabatannya, Mike Pence kerap memberikan pidato, di mana ia menyuarakan dukungannya terhadap Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan menentang para diktator seperti Presiden RRT Xi Jin-ping serta Presiden Rusia Vladimir Putin. Pandangan ini terkadang bertentangan dengan perspektif mantan Presiden AS, Donald Trump.