(Taiwan, ROC) – Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah mengumumkan bahwa pada hari pertama masa jabatannya, yakni pada Januari tahun depan, ia pun akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% untuk semua barang impor dari RRT, dan 25% untuk semua barang impor dari Kanada dan Meksiko. Kebijakan ini menjadi sorotan utama dalam sesi interpelasi beberapa anggota Komite Ekonomi Yuan Legislatif pada hari ini (27/11).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Ekonomi Taiwan, J.W. Kuo (郭智輝) dalam sebuah wawancara sebelum rapat menyatakan bahwa berdasarkan perkiraan awal, industri yang berkemungkinan akan menghadapi tekanan adalah industri layanan manufaktor elektronik (EMS). Namun, mayoritas perusahaan dalam industri tersebut berlokasikan di sekitar Texas dan New Mexico, AS, sehingga dirinya percaya mereka akan memiliki strategi dan langkah baru untuk beradaptasi.
Ketika ditanya oleh media terkait banyaknya perusahaan kendaraan listrik dan server yang telah membangun jaringan di wilayah selatan AS dan Meksiko, yang berkemungkinan turut terdampak kebijkan tarif Trump, Menko J.W. Kuo (郭智輝) menyebutkan bahwa meskipun demikian, perusahaan-perusahaan tersebut seharusnya memiliki strategi mitigasi untuk menghadapi situasi ini.
J.W. Kuo (郭智輝) menegaskan bahwa pihaknya akan berdiskusi dengan industri untuk merumuskan langkah-langkah penanganan di kemudian hari.
Dalam sesi interpelasi oleh anggota legislatif, Menko Kuo menyatakan bahwa untuk perusahaan Taiwan yang berpotensi terdampak, jika target pasarnya adalah RRT, maka Kementerian Perekonomian (MOEA) akan membantu mereka memindahkan pabrik ke negara-negara yang bersahabat dengan Negeri Panda. Sementara itu, bagi perusahaan yang berorientasi pada pasar Eropa dan AS, maka MOEA akan membantu mereka memindahkan pabrik ke negara-negara yang bersahabat dengan AS.
Kuo juga menambahkan bahwa pihaknya akan membantu pihak perusahaan untuk menuju kea rah produksi yang berbiaya rendah dan produk bernilai tambah. Selain mendekatkan fasilitas manufaktur dengan pelanggan untuk menekan biaya, perusahaan juga didorong untuk meningkatkan nilai tambah produk guna meningkatkan daya saing.