(Taiwan, ROC) -- Komite Khusus Urusan Tiongkok dari Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) bekerja sama dengan lembaga wadah pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington mengadakan simulasi konflik (wargame) terkait potensi serangan Tiongkok ke Taiwan.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa setelah konflik dimulai, Taiwan harus mengandalkan kekuatan militernya sendiri setidaknya selama satu sampai dua bulan, karena AS tidak dapat mengirimkan pasukan bantuan ke Taiwan selama periode tersebut.
Penasihat Senior CSIS Mark Cancian yang memimpin simulasi ini menjelaskan bahwa sebagian besar pasukan Taiwan ditempatkan di wilayah utara, yang juga merupakan pusat industri. Hal ini membuat Tiongkok dihadapkan pada pilihan yang sulit. Jika menyerang dari utara, mereka harus langsung berhadapan dengan konsentrasi pasukan pertahanan Taiwan, yang berpotensi memicu pertempuran besar di sekitar Taipei, sehingga tingkat kesulitannya lebih tinggi. Namun, jika memilih menyerang dari selatan, pendaratan akan lebih mudah dilakukan, tetapi risikonya adalah mereka harus bertempur ke arah utara untuk merebut wilayah strategis.
Cancian menjelaskan bahwa dalam simulasi kali ini, diasumsikan Tiongkok menyerang dari selatan. Dalam situasi tersebut, sangat penting bagi Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) untuk merebut pelabuhan atau pangkalan udara karena AS dan Jepang kemungkinan besar akan menyerang kapal amfibi Tiongkok secara bersamaan. Jika TPR gagal mendaratkan pasukan dalam jumlah yang cukup dan merebut pelabuhan atau pangkalan udara sebelum serangan tersebut, mereka tidak akan mampu mendukung pasukan yang sudah berada di Taiwan.
Cancian menilai bahwa dalam sebagian besar skenario, AS dan Jepang memenangkan simulasi konflik ini, tetapi dengan biaya yang sangat tinggi. Ia menyarankan bahwa cara paling efektif untuk membantu Taiwan mempertahankan diri adalah dengan menyediakan 500 rudal Harpoon. Rudal-rudal ini dapat dipasang pada kendaraan peluncur bergerak, sehingga ketika kapal perang Tiongkok masuk ke dalam jangkauan tembak, Taiwan dapat melancarkan serangan yang akan memberikan dampak besar.