(Taiwan, ROC) - Komisi Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Nasional di Yuan Legislatif mengundang Biro Keamanan Nasional (NSB), Kementerian Urusan Digital (MODA), Biro Investigasi, Badan Kepolisian Nasional (NPA), dan Dewan Sains Nasional (NSC) untuk melakukan penilaian terhadap dampak dari Teknologi AI pada keamanan informasi, video deepfake, dan informasi palsu.
Direktur Jenderal NSB Tsai Ming-yen (蔡明彥) melaporkan, seiring terus populernya teknologi AI, turunnya hambatan aplikasi dan semakin matangnya model bisnis AI perusahaan multinasional seperti Google dan OpenAI, muncullah tren persenjataan teknologi AI.
Tsai menunjukkan bahwa tantangan yang muncul dari penggunaan teknologi AI mencakup tiga aspek, yakni “peningkatan risiko ancaman keamanan”, “produksi informasi palsu untuk menyesatkan publik” dan “penyebaran informasi palsu yang cepat”.
Menurutnya, Amerika Serikat dan Eropa baru-baru ini telah berturut-turut memperingatkan bahwa Tiongkok menggunakan teknologi AI untuk melakukan “peretasan dan kebocoran (hack & leak)”, dan melalui kerja sama internasional, NSB telah memperkuat mekanisme pertahanan dan respons gabungan digitalnya sebagai respons terhadap taktik dan pola serangan siber Tiongkok.
Tsai Ming-yen mengatakan, “Melalui model kemitraan publik-swasta, teknologi AI dikombinasikan dengan mekanisme perlindungan keamanan informasi untuk memperkuat teknologi deteksi dan pencegahan serangan siber. Pada saat yang sama, NSB juga akan meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi keaslian karakter audio dan video. Selain itu, NSB akan mengadopsi model "AI Lawan AI" untuk segera menemukan ancaman serangan siber yang tidak dapat dilacak; juga akan meningkatkan efektivitas pencegahan misinformasi untuk membantu pemerintah memperkuat ketahanan infrastruktur penting.”
Tsai juga mengisyaratkan bahwa lembaga pemerintah terkait kini sedang menghimpun regulasi pokok perihal AI untuk menanggapi ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi AI.