History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Akademisi AS Serukan Kabinet Trump: Dukung Taiwan Mendapatkan Status Pengamat di Organisasi PBB

  • 16 November, 2024
  • 許秀玉
Akademisi AS Serukan Kabinet Trump: Dukung Taiwan Mendapatkan Status Pengamat di Organisasi PBB
Akademisi AS Serukan Kabinet Trump: Dukung Taiwan Mendapatkan Status Pengamat di Organisasi PBB / foto: FB Donald J. Trump

(Taiwan, ROC) – Akademisi dari Wadah Pemikir Washington D.C, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/11) menyatakan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seharusnya menjadi garis terdepan dalam perang politik antara Amerika Serikat dan negara-negara musuhnya, serta secara aktif melancarkan serangan terhadap negara-negara seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Rusia, Iran, dan Korea Utara, termasuk bersaing dengan Negeri Panda untuk memimpin posisi di lembaga-lembaga PBB, serta mendesak agar Taiwan dapat memperoleh status pengamat di lembaga-lembaga PBB yang didukung oleh AS.

Presiden terpilih AS, Donald Trump baru-baru ini menunjuk anggota DPR AS, Elise Stefanik sebagai Duta Besar untuk PBB. Richard Goldberg, selaku penasihat senior di “Yayasan Pertahanan Demokrasi / FDD” think tank Washington D.C, menulis sebuah artikel yang menyarankan agar Elise Stefanik dapat mendorong pendekatan “America First”.

Richard Goldberg menunjukkan, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, AS memiliki hak veto dan kekuasaan untuk menghelat pertemuan. Presiden Joe Biden belum pernah menggunakan hak veto lantaran khawatir akan dianggap sebagai kegagalan diplomatik dan lebih memilih mencari kompromi, yang pada gilirannya menempatkan AS dalam posisi bertahan. Sementara itu, RRT dan Rusia tidak segan-segan menggunakan hak veto, yang membuat mereka berada pada posisi menyerang.

Richard Goldberg menambahkan, calon Menteri Luar Negeri, Marco Rubio seharusnya menganggap Elise Stefanik sebagai ujung tombak AS dalam “perang politik” melawan negara-negara musuh. Elise Stefanik diharapkan setiap bulannya dapat mengekspos tindakan-tindakan ilegal yang dilakukan oleh kekuatan musuh dan agen-agennya di Dewan Keamanan, memaksa Negeri Tirai Bambu dan Rusia untuk angkat bicara dan membela tindakan mereka di hadapan Dewan Keamanan.

Goldberg juga menyatakan bahwa AS seharusnya memanfaatkan bantuan finansial yang diberikannya kepada sistem PBB untuk memberantas “pengaruh jahat” RRT, melawan antisemitisme, dan menghentikan aliran dana ke organisasi teroris.

Dirinya menyarankan agar Stefanik mengidentifikasi pejabat tinggi di lembaga-lembaga khusus PBB yang pro-Tiongkok, serta bekerja sama dengan negara-negara sahabat untuk membentuk pemilihan “ruang perang”, guna mendukung kandidat pro-Amerika untuk bersaing mendapatkan posisi tersebut dan mengalahkan pejabat yang pro-Tiongkok.

Goldberg mencontohkan bahwa beberapa lembaha khusus PBB memiliki kecenderungan berpihak pada kepentingan Negeri Panda. Misalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menolak Taiwan sebagai pengamat dan menutupi asal mula virus COVID-19; Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) telah menjadi alat bagi Beijing dalam memajukan “Inisiatif Sabuk dan Jalan”; serta Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang menutupi pelanggaran hak asasi manusia oleh RRT. Hal-hal ini perlu ditangani sebagai prioritas.

Goldberg mengemukakan, AS harus mempertahankan dominasinya di beberapa lembaga khusus PBB, seperti Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU). Untuk meningkatkan tekanan terhadap Negeri Panda, Stefanik bisa menuntut agar Taiwan mendapatkan posisi sebagai pengamat di setiap lembaga khusus PBB yang didanai dan didukung oleh Amerika Serikat.

Komentar

Terbarumore