History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Simulasi Blokade Taiwan oleh RRT, Pakar: Target Sesungguhnya adalah Amerika Serikat

  • 21 October, 2024
  • 陳柏萇
Simulasi Blokade Taiwan oleh RRT, Pakar: Target Sesungguhnya adalah Amerika Serikat
(Sumber foto: CNA)

(Taiwan, ROC) – Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada Senin (14/10) menggelar simulasi blokade terhadap Taiwan selama 13 jam, dan memicu perhatian besar dari dunia internasional. Namun, Fox News Amerika Serikat mengutip pendapat para ahli yang menunjukkan bahwa berbeda dengan laporan media internasional pada umumnya, tindakan ini bukan semata-mata untuk menghukum Presiden Taiwan Lai Ching-te (賴清德), melainkan mungkin ada maksud tersembunyi di baliknya.

Pakar Urusan Tiongkok Daratan dari lembaga think tank Atlantic Council, Elizabeth Freund Laurus kepada Fox News mangatakan, “RRT telah lama merencanakan latihan militer ini. Tak peduli apa yang dikatakan oleh Lai Ching-te (賴清德), mereka tetap akan melaksanakannya. Latihan militer ini bertujuan untuk menguras peralatan militer dan tenaga kerja Taiwan, mengancam keamanan Taiwan, melemahkan kepercayaan rakyat Taiwan kepada pemerintah, serta mengubah status quo pemisahan Taiwan dari RRT.”

Namun, peneliti senior di Asosiasi Penelitian Strategis Republik Tiongkok, Dr. Chang Ching (張競) menekankan bahwa orang-orang mungkin mengabaikan gambaran yang lebih besar. Dr. Chang mengutip catatan militer yang dirilis Jepang, yang menunjukkan bahwa beberapa hari sebelum latihan militer, Jepang telah melacak pergerakan kapal Rusia dan Daratan Tiongkok.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan Jepang pada Senin (14/10) merilis pers rilis yang menunjukkan bahwa pada tanggal 11 Oktober sekitar pukul 5 sore, Angkatan Laut Bela Diri Jepang mendeteksi enam kapal (4 kapal RRT dan 2 kapal Rusia) di sekitar 400 kilometer timur laut Pulau Okinotorishima. Media Jepang melaporkan bahwa mereka telah melacak pergerakan angkatan laut Negeri Tirai Bambu dan Rusia sejak akhir September.

Dr. Chang Ching (張競) menegaskan bahwa posisi kapal-kapal tersebut menunjukkan bahwa mereka berkemungkinan besar tidak terkait dengan operasi blokade Taiwan.

“Target sesungguhnya adalah Amerika Serikat” ujarnya.

“Mereka menggunakan strategi kuno “mengelilingi untuk memukul bala bantuan”, yakni berlatih bagaimana menyergap pasukan Negeri Paman Sam saat datang untuk membantu Taiwan. Jika Negeri Panda dapat membuat Amerika Serikat percaya bahwa ikut campur dalam konflik di Selat Taiwan tidak sepadan dengan risikonya, maka Beiijing akan menang.” tambahnya.

Lin Ying-you (林穎佑) selaku Asisten Profesor di Institut Urusan Internasional dan Studi Strategis Universitas Tamkang, menunjukkan bahwa Negeri Tirai Bambu memilih waktu ini untuk melakukan latihan militer guna mencoba menguji kemampuan Amerika Serikat dalam menangani krisis di Semenanjung Korea dan Selat Taiwan secara bersamaan.

Pemberitaan Fox News menyebutkan bahwa mengingat Beijing menganggap banyak tindakan Taiwan sebagai “provokasi yang mendukung kemerdekaan”, Taiwan menyerukan negara-negara demokratis yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk bersama-sama merumuskan langkah-langkah konkret guna menanggapi tindakan pemerintah Beijing yang terus mengubah status quo, memiliterisasi Selat Taiwan, dan berupaya merampas demokrasi Taiwan.

Asisten Direktur Global China Hub di Dewan Atlantik, Kitsch Liao menegaskan bahwa Taiwan “harus memperbarui strategi keamanan nasional yang dirumuskan pada tahun 2007 sebagai panduan, serta menyatukan berbagai pihak untuk bekerja sama demi perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.”

Komentar

Terbarumore