History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pidato Hari Nasional, Presiden Lai: Republik Tiongkok Telah Berakar di Taiwan, Penghu, Kinmen, dan Matsu.

  • 10 October, 2024
  • 鄭蕙玲
Pidato Hari Nasional, Presiden Lai: Republik Tiongkok Telah Berakar di Taiwan, Penghu, Kinmen, dan Matsu.
Presiden Lai Ching-te berpidato untuk pertama kalinya dalam perayaan Double Ten, setelah dilantik sebagai presiden pada tanggal 20 Mei lalu (foto: CNA)

(Taiwan, ROC) --- Lai Ching-te (賴清德) menyampaikan pidato Hari Nasional pertamanya sejak menjabat posisi Kepala Negara pada Kamis hari ini (10/10).

Beliau menyatakan bahwa Republik Tiongkok telah mengakar di Taiwan, Penghu, Kinmen, dan Matsu, dan tidak berada di bawah yurisdiksi Republik Rakyat Tiongkok (RRT). RRT tidak berhak mewakili Taiwan.

Presiden menekankan bahwa misinya adalah menjaga keberlangsungan dan perkembangan negara, menjunjung tinggi kedaulatan dari invasi dan aneksasi, serta melindungi kehidupan dan harta benda seluruh rakyat.

Beliau juga berharap Tiongkok menanggapi harapan masyarakat internasional dan berkontribusi pada perdamaian, keamanan, dan kemakmuran regional.

Hari ini adalah Hari Nasional Republik Tiongkok ke-113. Presiden Lai Ching-te menghadiri Upacara Hari Nasional yang diadakan di depan Istana Kepresidenan.

Dalam pidatonya, Kepala Negara menyatakan bahwa 113 tahun yang lalu, sekelompok orang yang penuh dengan cita-cita dan semangat, bangkit dan menggulingkan pemerintahan kekaisaran, berharap untuk membangun republik demokratis, yang bersifat dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Meskipun cita-cita demokrasi dan kebebasan pernah terkikis oleh perang dan pemerintahan otoriter, tetapi rakyat Taiwan tidak akan pernah melupakan Pertempuran Guningtou 75 tahun yang lalu dan Pertempuran Kinmen 66 tahun yang lalu.

Rakyat Taiwan, tanpa memandang asal usul dan etnis, telah mempertahankan Taiwan, Penghu, Kinmen, dan Matsu, serta mempertahankan Republik Tiongkok.

Insiden Kaohsiung 45 tahun yang lalu juga akhirnya mewujudkan keinginan rakyat untuk menjadi tuan rumah di tanah air mereka sendiri setelah lebih dari 100 tahun.

Presiden Lai juga menunjukkan bahwa meskipun Republik Tiongkok pernah dikeluarkan dari masyarakat internasional, tetapi rakyat Taiwan tidak pernah mengasingkan diri. Mereka telah melewati berbagai tantangan dan tetap berdiri teguh.

Beliau menegaskan kembali bahwa Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok tidak berada di bawah yurisdiksi satu sama lain, dan Republik Rakyat Tiongkok tidak berhak mewakili Taiwan.

Presiden Lai berkata: "Sekarang, Republik Tiongkok telah mengakar di Taiwan, Penghu, Kinmen, dan Matsu, dan tidak berada di bawah yurisdiksi Republik Rakyat Tiongkok. Demokrasi dan kebebasan telah tumbuh dan berkembang di tanah ini. Republik Rakyat Tiongkok tidak berhak mewakili Taiwan. Dua puluh tiga juta rakyat Taiwan harus semakin menjangkau dunia dan menuju masa depan."

Presiden menyatakan bahwa meskipun rakyat Taiwan memahami perbedaan pandangan dan pendapat, tetapi mereka selalu bersedia saling bertoleransi dan maju bersama, sehingga membentuk Republik Tiongkok (Taiwan) seperti sekarang ini.

Sebagai Presiden, misinya adalah menjaga keberlangsungan dan perkembangan negara, mempersatukan 23 juta rakyat Taiwan, menjunjung tinggi kedaulatan negara dari invasi dan aneksasi, serta melindungi kehidupan dan harta benda seluruh rakyat.

Oleh karena itu, Beliau teguh menjalankan "Rencana Aksi Empat Pilar Perdamaian" dan membentuk "Komite Penanggulangan Perubahan Iklim Nasional", "Komite Taiwan Sehat", serta "Komite Ketangguhan Pertahanan Nasional" di Istana Kepresidenan.

Presiden Lai juga menyatakan bahwa Taiwan bertekad menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, demi keamanan dan kemakmuran global. Taiwan juga bersedia bekerja sama dengan Tiongkok dalam menghadapi perubahan iklim, mencegah penyakit menular, dan menjaga keamanan regional, mengejar koeksistensi perdamaian, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat di kedua sisi Selat.

Beliau juga berharap Tiongkok dapat menanggapi harapan masyarakat internasional, menggunakan pengaruhnya, dan bekerja sama dengan negara-negara di dunia untuk mengakhiri perang di Ukraina dan konflik di Timur Tengah, serta bersama Taiwan memikul tanggung jawab internasional, berkontribusi pada perdamaian, keamanan, serta kemakmuran regional dan global.

Kepala Negara menekankan bahwa di tengah situasi internasional yang semakin bergejolak, Taiwan akan semakin tenang, percaya diri, dan kuat, menjadi kekuatan bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional.

Beliau yakin bahwa Taiwan yang demokratis dan semakin kuat bukan hanya impian 23 juta rakyatnya, tetapi juga harapan masyarakat internasional.

Komentar

Terbarumore