(Taiwan, ROC) -- Festival Film HAM Indonesia (100% Manusia) ke-8 telah resmi ditutup pada Minggu kemarin (8/9) setelah berlangsung selama seminggu. Sebanyak 87 film Eropa, Amerika, Indonesia, dan Korea Selatan diputar di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Film-film tersebut mengangkat isu-isu terkini seputar kesehatan mental, kesetaraan, dan kemanusiaan. Pihak penyelenggara berharap dapat berkolaborasi dengan lebih banyak negara Asia, termasuk Taiwan dan Jepang, untuk memberikan perspektif Asia yang lebih luas kepada penonton.
Film-film yang diputar tersebut mengangkat beragam tema seperti hak-hak LGBTQ+, kemanusiaan, stigma HIV/AIDS, kesehatan mental, dan perdagangan manusia. Kurnia Dwijayanto, salah satu pendiri Festival Film Hak Asasi Manusia Indonesia, menjelaskan bahwa tema festival tahun ini adalah "persatuan". Tema ini dipilih karena tahun ini merupakan tahun politik yang sering kali memecah belah masyarakat, sehingga festival ini ingin mengajak semua orang untuk bersatu. Kurnia menambahkan bahwa salah satu tujuan festival ini adalah untuk menciptakan ruang dialog dan lingkungan yang aman. Hal ini didasari oleh kebutuhan masyarakat akan ruang aman untuk berekspresi, termasuk penyandang disabilitas dan korban pelecehan atau kekerasan. Melalui festival film ini, mereka dapat saling mengenal dan berdiskusi tentang isu-isu HAM.
Pihak penyelenggara berharap dapat menjalin kerja sama dengan lebih banyak negara Asia, termasuk Taiwan dan Jepang, untuk menghadirkan perspektif Asia yang lebih luas. Kurnia mencontohkan, "Ada seorang penonton yang berani mengungkapkan jati dirinya sebagai seorang lesbian di acara tersebut. Dia menjelaskan bahwa dia merasa cukup aman di lingkungan ini untuk berbagi orientasi seksualnya."
Kurnia menambahkan bahwa selama festival, mereka juga memutar beberapa film yang ramah bagi penonton tunanetra dan tunarungu, serta menyelenggarakan tur jalan kaki untuk memperkenalkan sejarah HAM kepada publik melalui tur kota. Dia menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memiliki Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), tetapi masih banyak isu dan masalah HAM yang belum dibahas dan diselesaikan, seperti diskriminasi terhadap penderita AIDS dan hak-hak penyandang disabilitas.
Oleh karena itu, dia meyakini bahwa Festival Film Hak Asasi Manusia sangat penting untuk diselenggarakan. Kurnia menjelaskan bahwa panitia dan staf Festival Film Hak Asasi Manusia semuanya adalah sukarelawan yang tidak dibayar, sehingga sumber dana menjadi tantangan terbesar mereka. Sebagian besar dana festival selama ini berasal dari Kedubes negara-negara Eropa di Indonesia. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menjadi salah satu sponsor untuk perhelatan tahun ini.
Menilik kembali penyelenggaraan Festival Film Hak Asasi Manusia Indonesia tahun ini dan sebelumnya, yang mana sebagian besar film yang diputar masih didominasi oleh film-film Barat dan Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Kurnia menyatakan bahwa tahun ini untuk pertama kalinya mereka memasukkan film Korea Selatan. Dia berharap di masa depan akan ada lebih banyak film Asia yang diputar untuk memberikan perspektif Asia kepada penonton.
Kurnia juga menambahkan bahwa dirinya mengetahui Taiwan adalah negara yang sangat memperhatikan isu-isu HAM. Oleh karena itu, dia berharap dapat bekerja sama dengan Taiwan di masa depan. "Semua film yang berkaitan dengan hak asasi manusia dapat diputar di festival film ini. Jika ada film Asia yang bergabung di masa depan, perspektif yang dihadirkan akan lebih dekat dengan Indonesia. Akan sangat bagus jika film dari Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan dapat diputar (di festival film ini)!" tambah Kurnia Dwijayanto.