(Taiwan,ROC) New York Times (26/8) melaporkan pembahasan drama televisi “Zero Day”. Pakar AS Brain Hart saat diwawancarai menyampaikan, berkaitan serangan pemerintah Beijing terhadap Taiwan dalam sektor politik, psikologis dan hukum, drama ini menekankan informasi penting dan menegaskan untuk perlawanan RRT tidak hanya mengandalkan kekuatan militer.
Setelah penayangan trailer serial drama televisi Taiwan “Zero Day” memicu perhatian, New York Times melaporkan syuting film dilakukan di Istana Kepresidenan, memerankan kekacauan yang terjadi akibat serangan dari RRT.
Kisah yang dikemas dalam 10 episode menggambarkan kemungkinan yang dilakukan RRT terhadap Taiwan, mencoba menduduki Taiwan. Isi pemberitaan yang memicu perhatian, pendukung mengatakan mendorong dialog yang berkaitan ancaman RRT, di satu sisi kritikus beranggapan drama yang memicu kekhawatiran.
Produser Cheng Hsin-mei (鄭心媚) menyampaikan, berharap film ini dapat memecah keheningan warga Taiwan terhadap kemungkinan perang, “setiap orang bagaimana menghadapi perang, bagaimana menghadapi kemungkinan perang, akan tetapi tidak ada benar-benar membicarakannya.” Cheng berterus terang, beberapa aktor yang ditawari menolak memainkan peranan ini karena takut kehilangan sponsor, beberapa pelaku industri konstruksi yang dijadikan sebagai lokasi syuting merasa kuatir dengan kontroversi dan menarik diri.
New York Times memberitakan, aktris Janet Hsieh (謝怡芬) yang berperan sebagai presiden mengungkap, kehidupan nyata bukan hanya hitam putih saja, tetapi sangat kompleks, film ini yang menunjukkan situasi riil, komunitas kekeluargaan dan rumitnya peristiwa yang terjadi dalam dunia perpolitikan.
Direncanakan film ini akan mulai ditayangkan tahun depan. Salah satu dari sutradara film Lo Ging-zim (羅景壬) menekankan, pemerintah tidak mempengaruhi alur film ini, pembuatan drama dan film Taiwan termasuk film komedi dan horror, mendapat dana subsidi dari pemerintah adalah hal yang wajar. Ia juga menyebut keterlibatannya terinspirasi dari perang Rusia-Ukraina.
Pakar AS dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Brian Hart mengatakan “dalam kenyataannya, pemerintah Beijing melakukan serangan politik, psikologi dan hukum melawan Taiwan, yang bertujuan menciptakan perpecahan dan kekacauan diantara masyarakat Taiwan. Brain Hart pernah menyampaikan laporan penelaahan bagaimana RRT memblokade Taiwan.
Brain Hart mengatakan, “Ancaman perang hibrida ini menjadi poin kunci yang ditekankan dalam film ini, poin ini sangat penting, karena menghadang dan melakukan perlawanan terhadap RRT bukan sekedar mengandalkan kekuatan militer.”