(Taiwan, ROC) Pemerintah Taiwan baru telah menjabat 100 hari berjalan, isu hubungan lintas selat mulai menjadi pusat perhatian. Sejak menjabat hingga hari ini, Beberapa kali pernyataan dari Presiden Lai Ching-te (賴清德) dalam berbagai upacara peringatan mendapat sorotan dari lintas selat dan internasional, di antaranya pidato pelantikan presiden 20 Mei, Aniversary Akademi Angkatan Laut ke-100 tahun pada 16 Juni, Peringatan Krisis Selat Taiwan Kedua ke-66 pada 23 Agustus.
Presiden Lai Ching-te dalam sambutan pidato pelantikan 20 Mei, menegaskan “4 Kegigihan”, secara nyata menerapkan “4 pilar perdamaian utama”, di satu sisi berniat baik terhadap RRT dan bersikap damai, mengharapkan lintas selat dapat “mengaktifkan kembali industri pariwisata kedua belah pihak”, “pelajar dapat melanjutkan studi di Taiwan”, “bersama mengejar perdamaian”.
Di sisi lainnya berpegang teguh pada “Republik Tiongkok (ROC) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tidak saling berafiliasi”. Dalam pernyataan yang menekankan “bersatu”, berharap menjadi satu konvensi besar yang menyatukan masyarakat Taiwan. Berdasarkan dari sumber informasi mengungkap bahwa, pembahasan terkait lintas selat dari Presiden Lai Ching-te adalah mengambil sikap dengan landasan ini, yakni berniat baik untuk melakukan dialog, dan menerapkan fleksibilitas dan ketangguhan.
Berkaitan dengan isi dialog Aniversary Akademi Angkatan Laut ke-100 tahun pada 16 Juni, dari sumber informasi yang ada mengemukakan, pada masa tersebut pemerintahan Beijing merebut hak bersuara Akademi Militer Republik Tiongkok (Akademi militer Whampoa), demi mendorong kekompakan tentara nasional maka Presiden Lai Ching-te menyerukan “di mana ada Republik Tiongkok, disitu ada semangat Akademi Whompoa”, di bawah premis ROC dan RRT tidak saling berafiliasi,
Menurut sumber informasi menyampaikan, pernyataan pidato pelantikan 20 Mei terkait lintas selat dari Presiden Lai Ching-te, hingga pembahasan dalam upacara peringatan Krisis Selat Taiwan Kedua ke-66, dengan konten yang menghimpun poin-poin pokok, secara langsung menunjuk “ RRT yang mau mengambil alih Taiwan, ini bukan perkataan satu orang, atau satu partai saja”, dan menekankan “tidak membedakan kawasan, etnis, militer dan warga sipil bersatu dan kompak melindungi Tawian, Penghu, Kinmen dan Mazu, membela Republik Tiongkok”, mengadopsi “persatuan” sebagai poros, yang menggambarkan satu kebulatan dalam komunitas Taiwan.
Dalam 3 ajang pidato yang disampaikan, terlihat pandangan Presiden Lai Ching-te terhadap lintas selat tidak berubah, akan tetapi juga memberikan ritme dan struktur pernyataan untuk pidato sebelumnya, dan secara bertahap menghilangkan kerangka lama, memberikan penafsiran baru, dan memastikan “menghadapinya bersama dunia”, serta memanfaatkan keunggulan Taiwan dalam sektor perdagangan, teknologi dan kesehatan publik, membangun strategis keamanan negara yang sempurna, agar Taiwan menjadi bagian dari komunitas internasional “berpayung demokrasi” yang tidak boleh diabaikan, serta memberikan ruang lingkup lintas selat yang semakin besar.
Di sisi pertahanan , Presiden Lai Ching-de mengadopsi Menhan Wellington Koo dari warga sipil, dalam waktu 3 bulan menjalani lebih dari 10 ajang inspeksi pertahanan keamanan; selain itu meniadakan pengawalan prajurit di Chiang Kai-shek Memorial Hall. Pada tahun ini dalam simulasi latihan militer Hankuang no.40 tanpa disertai naskah, pelatihan militer 24 jam desentralisasi dan secara riil yang disiarkan secara streaming.
Sumber informasi menyampaikan, hal ini menunjukkan reformasi pertahanan nasional yang dicanangkan Presiden Lai Ching-te tidak secara tertulis, melainkan harapan besar akan cakupan reformasi pertahanan nasional untuk memperkuat pertahanan keamanan nasional secara nyata.