History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Lembaga Pemikir Indonesia Berfokus pada Situasi Selat Taiwan, Mengharapkan ASEAN Membangun Saluran Komunikasi

  • 10 August, 2024
  • 李珮菁
Lembaga Pemikir Indonesia Berfokus pada Situasi Selat Taiwan, Mengharapkan ASEAN Membangun Saluran Komunikasi
Seminar di Indonesia yang membahas situasi di Selat Taiwan (foto: CNA)

(Taiwan, ROC) -- Lembaga pemikir dan universitas di Indonesia menyelenggarakan forum pada tanggal 5 Agustus lalu, mengundang para peneliti untuk membahas bagaimana Asia Tenggara sebaiknya merespons perkembangan situasi di Selat Taiwan. Para ahli tersebut menyarankan agar ASEAN membangun mekanisme dialog dengan Amerika Serikat, Tiongkok Daratan (RRT), dan Taiwan (ROC). Indonesia sebaiknya membangun konsensus ASEAN dan mengurangi ketegangan di Selat Taiwan.

Seminar yang diadakan oleh Universitas Paramadina dan Forum Sinologi Indonesia tersebut mengundang para pakar hubungan internasional untuk membahas respons Asia Tenggara terhadap situasi di Selat Taiwan dan dampaknya bagi Indonesia.

Ratih Kabinawa, asisten peneliti di Akademi Ilmu Sosial di Universitas Western Australia dalam forum tersebut mengulas tanggapan Indonesia dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) terhadap meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan beberapa tahun terakhir. Ia pun menganalisis, bahwa mentalitas Perang Dingin terlihat dari pernyataan ASEAN terkait dengan situasi di Selat Taiwan dan di masa depan akan dilihat apakah isu Taiwan dapat menjadi penawaran baru bagi ASEAN untuk bersaing dengan RRT.

Ia percaya, bahwa dalam menghadapi meningkatnya situasi di Selat Taiwan, negara-negara Asia Tenggara harus membangun mekanisme dialog dengan Taiwan, RRT, dan AS untuk meredakan ketegangan di Selat Taiwan.

Ratih Kabinawa dalam wawancaranya dengan CNA menyampaikan, jika terjadi perang di Selat Taiwan, maka hal tersebut akan berdampak pada Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara.

Pandangan serupa diungkapkan oleh Muhamad Iksan, dosen dari Universitas Paramadina. Ia menegaskan, Indonesia dapat memimpin ASEAN untuk meredakan ketegangan antara RRT dan ROC.

ASEAN memiliki preseden dalam membentuk consensus mengenai situasi di Selat Taiwan, misalnya seperti pada tahun 2022, di mana ASEAN mengeluarkan pernyataan bersama mengenai situasi di Selat Taiwan.

Setelah mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan pada bulan Agustus 2022, RRT melakukan latihan skala besar di lepas pantai Taiwan. ASEAN mengeluarkan pernyataan bersama pada saat itu, "menegaskan kembali kebijakan satu Tiongkok dan mendesak pengendalian diri dan non-provokasi."

Broto Wardoyo, asisten profesor di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia menyampaikan, pertukaran ekonomi antara Taiwan dan Tiongkok masih terjalin meskipun terjadi penurunan tajam dalam beberapa tahun terakhir, tapi volume perdagangan lintas selat masih relatif tinggi.

Situasi di Selat Taiwan telah menjadi topik penting dalam beberapa tahun terakhir, dan jumlah seminar yang diadakan oleh institusi akademis Indonesia mengenai hubungan Selat Taiwan terus meningkat.

Johanes Herlijanto, dosen Universitas Pelita Harapan Indonesia, menyampaikan, bahwa situasi di Selat Taiwan erat kaitannya dengan Indonesia. Saat ini juga ada hampir 300.000 WNI yang belajar atau bekerja di Taiwan, sehingga penting untuk memperhatikan permasalahan antara RRT dan ROC.

Yoga Daryana, peneliti dari Indo Pacific Strategic Intelligence mengutarakan, bahwa 3 anggota keluarganya sedang belajar di Taiwan. Setiap kali mengetahui bahwa pesawat militer RRT mengelilingi Taiwan, mereka akan menggunakan media sosial untuk saling menunjukkan kepedulian mereka.

Ia mengatakan, “bagi saya, persoalan Taiwan sangat penting. Indonesia dan Taiwan mempunyai pertukaran ekonomi dan perdagangan, dan banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di Taiwan. Jika situasi di Selat Taiwan meningkat, tentu saya khawatir.”

Komentar

Terbarumore