(Taiwan, ROC) – Singapura yang bergantung pada impor pangan terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan produksi dalam negerinya. Terkait hal ini, Taiwan yang berperan dalam membudidayakan ikan air tawar akan membantu Singapura untuk mencapai tujuan swasembada tersebut.
Menghadapai risiko krisis pangan dan untuk memperkuat ketahanan pangannya, pemerintah Singapura telah mengusulkan “visi 30.30” pada awal tahun 2019 yang bertujuan untuk mencapai 30% kebutuhan nutrisi masyarakat melalui produk pertanian yang diproduksi secara lokal pada tahun 2030 mendatang, dimana 20% merupakan sayuran dan buah-buahan, sementara 10% sisanya adalah telur dan ikan yang mengandung protein.
Tempat budi daya Ikan di Singapura berada di lepas pantai Selat Johor dan berdekatan dengan Malaysia. Beberapa tahun terakhir ini, mereka bekerja keras meningkatkan kapasistas produksi, membudidayakan ikan air tawar nila Taiwan dan memberi makan pelet.
Zhan Jin-bang (粘金棒) yang telah 20 tahun bekerja di Singapura menyampaikan, bahwa budidaya ikan nila Taiwan memerlukan 2 faktor penting, yaitu benih berkualitas baik dan pakan yang benar, sehingga ikan tumbuh dengan cepat dan berkualitas.
Zhan menyampaikan bahwa ikan tilapia yang juga dikenal sebagai nila Taiwan, setiap batch benihnya berjumlah antara 20.000 – 30.000 ekor dan menghasilkan 15 ton ikan nila setiap bulannya. Namun, tantangan terbesar dalam budi daya di Singapura adalah perubahan iklim, selain juga kualitas air lepas pantai yang sering berubah dan biaya yang tinggi.
Namun, ia menyampaikan, jika benihnya berkualitas baik dan skala produksi ditingkatkan “visi 30.30” Singapura dapat terbantu.
Bapak Wang yang juga bekerja di perikanan menyampaikan, bahwa tantangan dari perubahan iklim tidaklah kecil. Perubahan kondisi air laut merupakan faktor yang dapat mempengaruhi produksi, tapi ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk menghindari kerugian dan kegiatan operasional berjalan dengan efisien.
Badan Pangan Singapura (Singapore Food Agency) baru-baru ini mengumumkan, bahwa mereka telah menyetujui 16 spesies serangga yang diakui Singapura untuk dikonsumsi, seperti jangkrik, belalang, ulat bambu, ulat sutera, dan berbagai serangga lainnya. Apakah serangga yang dapat dimakan dapat membantu Singapura mencapai visi produksi dan swasembada akan bergantung pada kecepatan dan efektivitas promosi.
Singapura hanya berukuran 2,6 kali lebih besar dari Kota Taipei. Negara ini memiliki lahan terbatas, skala pertanian kecil, dan bergantung pada impor untuk 90% pangannya. Sejak pandemi COVID19 dan perang Rusia-Ukraina, pentingnya ketahanan pangan telah disorot. Meskipun Singapura memperluas sumber impor pangannya, Singapura juga berupaya meningkatkan produksi dalam negeri.