(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 10 Juli 2024, Presiden Lai Ching-te (賴清德) menerima kunjungan Direktur American Institute in Taiwan (AIT) yang baru menjabat, yakni Raymond Greene.
Dalam pidatonya, Raymond Greene menyinggung tentang "Kebijakan Satu Tiongkok". Namun, karena siaran pers kepresidenan tidak memuat kata "Satu Tiongkok", beberapa media mempertanyakan apakah kata tersebut sengaja dihilangkan dan menafsirkannya sebagai "peringatan" yang kuat dari AIT kepada Taiwan.
Pada Jumat hari ini (12/7), Juru bicara Istana Kepresidenan, Kuo Ya-hui (郭雅慧), menanggapi bahwa pidato tersebut disampaikan secara terbuka dan merupakan praktik umum untuk tidak mencantumkan secara rinci pembicaraan tamu dalam siaran pers kunjungan. Ia mengimbau media tertentu untuk tidak merusak hubungan diplomasi Taiwan dan menciptakan konflik regional.
Saat bertemu dengan Presiden Lai Ching-te, Raymond Greene menekankan dalam pidatonya bahwa Amerika Serikat akan terus mendukung Taiwan. Ia menyatakan bahwa hal ini sejalan dengan kebijakan Satu Tiongkok Amerika Serikat yang telah lama dipegang, yang dipandu oleh Undang-Undang Hubungan Taiwan, Tiga Komunike Bersama, dan Enam Jaminan.
Beberapa media dalam negeri menafsirkan hal ini sebagai "indikasi yang jelas" dari posisi AS terhadap Taiwan pada kunjungan pertamanya, yang menunjukkan kurangnya kepercayaan terhadap pemerintahan Lai Ching-te.
Mereka juga mempertanyakan mengapa siaran pers kepresidenan tidak memuat kata "Satu Tiongkok" saat mengutip bagian tersebut, dengan menduga bahwa hal itu sengaja dihilangkan karena "kebenaran politik".
Pada Jumat hari ini, Juru bicara Istana Kepresidenan, Kuo Ya-hui, menanggapi bahwa berdasarkan prinsip kesopanan dan rasa saling percaya, maka praktik yang biasa dilakukan dalam hubungan diplomasi adalah tidak mencantumkan secara rinci percakapan tamu dalam siaran pers kunjungan kenegaraan, dan hal serupa juga dilakukan di negara-negara demokrasi besar lainnya.
Selain itu, media yang bertugas juga hadir saat Raymond Greene menyampaikan pidatonya, sehingga informasi tersebut bersifat publik dan dapat diakses secara lengkap oleh semua media.
Tidak ada motif atau kemungkinan untuk menyembunyikan informasi yang ada.
Kuo Ya-hui menyampaikan bahwa hubungan Taiwan-AS telah mengalami kemajuan yang signifikan berkat upaya jangka panjang dari pemerintah dan rakyat Taiwan.
Namun, sangat disayangkan bahwa media tertentu terus menerus merusak diplomasi Taiwan dan menciptakan konflik regional dengan sindiran dan berita tidak benar, seperti laporan perihal "AS meminta Taiwan untuk mengembangkan senjata biologis", yang mana kabar tersebut telah dikonfirmasi oleh lembaga penegak hokum sebagai informasi palsu. Dan kini, media tersebut mereka mengulangi strategi serupa dengan memanipulasi informasi yang salah.
Kantor Istana Kepresidenan sekali lagi meminta United Daily News untuk menarik berita palsu yang merusak hubungan Taiwan-AS guna menjaga kredibilitas mereka.