(Taiwan, ROC) -- Museum Sejarah Nasional Taiwan merilis “Pameran Khusus Perang Dinasti Qing – Prancis: Rekoleksi Se'á'huan” mulai 25 Juni, mengundang para pengunjung untuk mempelajari kisah-kisah tokoh-tokoh kecil di luar narasi sejarah resmi dari berbagai perspektif, serta memperlihatkan hal-hal penting, seperti barang antik berupa peta ekspedisi Prancis ke Formosa.
Dalam pidato pembukaan acara, Kepala Museum Sejarah Nasional Taiwan (NMTH), Chang Lung-chih (張隆志) menyampaikan bahwa Perang Dinasti Qing – Prancis pada tahun 1884 -1885, di satu sisi merupakan respons perubahan kebijakan territorial Dinasti Qing setelah Insiden Peony Society pada tahun 1875, dan di sisi lain juga merupakan cerminan dari tahap baru berdirinya Provinsi Taiwan.
Chang Lung-chih menunjukkan bahwa pameran ini menyajikan berbagai gambar, dokumen, dan fotografi, baik dari Taiwan maupun Prancis. Museum juga peduli pada memori kolektif perang terhadap masyarakat umum, di mana Anda dapat melihat dokter militer dalam pameran tersebut, melalui buku harian dan foto para tentara serta perwira selama dalam perjalanan di laut antara Penghu dan Keelung. Kita juga dapat melihat dampak perang terhadap agama di Taiwan dan adat istiadat setempat.
Informasi yang diberikan NMTH menunjukkan, bahwa pada tahun 1884, terdampak dari perebutan kekuasaan antara Dinasti Qing dan Prancis terhadap Vietnam, Keelung, Tamsui, dan Penghu, terjadilah perang satu sama lain. Orang Taiwan yang melihat bencana militer ini menyebutnya “Se’a’huan” yang berarti Prancis Barat datang menyebabkan kekacauan.
NMTH menunjukkan, dalam menghadapi agresi asing, masyarakat lokal berkumpul dan memobilisasi angkatan bersenjatanya untuk maju ke medan perang bersama para pemimpin utama seperti Lin Chao-dong (林朝棟), Chang Li-cheng (張李成), dan Jiang Shao-ji (姜紹基). Hingga saat ini, berbagai tembikar, plakat, dan mural yang menceritakan legenda para dewa yang membantu perang ada di kuil-kuil sekitar Keelung dan Tamsui, menunjukkan jalinan kepercayaan, jaringan massa, dan kenangan akan perang.
Pihak museum menunjukkan, bahwa hasil penelitian dan pengumpulan “bahan sejarah Taiwan dari luar negeri” yang dikumpulkan selama bertahun-tahun telah dipublikasikan, termasuk naskah buku dan peta “Ekspedisi Orang Prancis ke Formosa” perwira militer Prancis, Eugene Germain Garnot yang saat ini merupakan catatan paling rinci terkait dengan Perang Dinasti Qing – Prancis.
NMTH bekerja sama dengan tim peneliti dari Universitas Nasional Taiwan (NTU) untuk menerjemahkan sejarah pertempuran ke dalam peta dinamis yang jelas dan mudah dipahami, memungkinkan pengunjung merasakan serangan Prancis maupun militer lokal, serta perlawanan dari masyarakat sipil. Ada 7 bagian pengalaman indera di tempat pameran, antara lain membaca surat militer Prancis,k mendengarkan musik militer, dan menyentuh garis pertahanan di medan perang.