(Taiwan, ROC) — Asian Journalism Forum 2024 resmi digelar mulai hari ini (22/6) hingga besok (23/6) di Gedung Konferensi Internasional Lin Tze, Fakultas Hukum National Taiwan University (NTU). Forum ini diselenggarakan oleh The Foundation for Excellent Journalism Award (FEJA) dengan menggandeng Yayasan Demokrasi Westminster dan Institut Studi Jurnalistik NTU.
Asian Journalism Forum kali ini mengusung topik “Jurnalisme di Tahun Pemilu Bersejarah” yang dibawakan oleh 16 panelis dari 10 negara, termasuk Jepang, Korea, Indonesia, India, Thailand, Filipina, Inggris, Tiongkok, dan Taiwan.

Perwakilan media ternama di Taiwan, termasuk Chairperson Radio Taiwan Internasional (Rti) Cheryl Lai dan Chairperson Taiwan Public Television Service (PTS) Hu Yuan-hui (胡元輝), turut mengambil bagian sebagai moderator dalam forum tahun ini.
Selama dua hari, forum ini akan membahas 6 topik secara keseluruhan. Hari ini, mereka membahas 3 topik, yakni mengenai “Dampak Hasil Pemilu Negara-Negara Asia terhadap Geopolitik dari Sudut Pandang Media”, "Campur Tangan dalam Pemilu: Manipulasi Informasi oleh Kekuatan Politik di Dalam dan Luar Negeri", dan “Peran Berita Hoaks, Misinformasi, dan Konten Rekayasa selama Pemilu.”
Perwakilan Indonesia, Wahyu Dhyatmika, memiliki latar belakang yang mengesankan dalam bidang jurnalistik. Sebagai CEO Tempo Digital, Wahyu memainkan peran penting selama Pemilu Presiden 2019 dengan berkolaborasi bersama 24 media ternama seperti Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) untuk mendirikan platform pemeriksaan fakta berita, CekFakta.com. Ia juga menerima beasiswa Nieman Fellowship dari Universitas Harvard pada tahun 2014.
Dalam presentasinya, Wahyu menyoroti beberapa poin krusial terkait Pilpres 2024 yang dianggap “sebagai yang terburuk sejak era reformasi” oleh partai oposisi. Keputusan Mahkamah Konstitusi untuk meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Oktober 2023 menuai kritikan keras dari masyarakat karena presiden dianggap melakukan intervensi langsung.
Dalam aspek geopolitik, Wahyu menuturkan bahwa Indonesia akan melanjutkan upayanya untuk mencapai keuntungan di tengah ketegangan geopolitik Asia Tenggara, salah satunya dengan mempererat kerja sama dengan Tiongkok. Langkah ini dianggap strategis dalam menghadapi dinamika regional yang semakin kompleks.
Sebagai penutup, Wahyu menjelaskan mengenai arah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo, di mana Prabowo harus menjaga keseimbangan hubungan dengan Tiongkok maupun Amerika Serikat, demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Wahyu juga menekankan pentingnya strategi diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara berkembang lainnya untuk memperkokoh posisi Indonesia di panggung global.