History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Peralihan Pemerintahan, Kepala TETO John C Chen: Berharap Prabowo Semakin Terbuka Untuk Hubungan Taiwan

  • 20 June, 2024
  • 鄭蕙玲
Peralihan Pemerintahan, Kepala TETO John C Chen: Berharap Prabowo Semakin Terbuka Untuk Hubungan Taiwan
Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei di Jakarta (TETO), John C. Chen (foto: CNA)

(Taiwan, ROC) Presiden Indonesia terpilih, Prabowo Subianto mulai menjabat pada bulan Oktober 2024, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei di Jakarta (TETO), John C. Chen (陳忠) menyampaikan, Prabowo menerima pendidikan barat sejak kecil, ia sangat anti komunis karena mendapat pengaruh dari mantan mertuanya mendiang Suharto pada masa jangka panjang, pemetaan secara internasional akan lebih terbuka. Ia juga mengharapkan hubungan Taiwan dengan pemerintahan baru dapat mengadopsi sikap terbuka, memperlancar pembinaan hubungan bilateral.

Presiden Indonesia Joko Widodo akan mengundurkan diri pada bulan Oktober dan Prabowo Subianto akan mengambil alih jabatan presiden. Sebelum penyerahan kekuasaan, Kepala TETO John C Chen menerima wawancara eksklusif dengan CNA, membahas tentang pandangannya terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan baru. Menurutnya, masa depan hubungan Taiwan-Indonesia dan harapan perkembangan pembinaan hubungan bilateral di bawah kepemimpinan Prabowo.

Kepala TETO John C Chen mengatakan, karena tim kuasa hukum Prabowo belum terbentuk, maka saat ini sulit memprediksi arah kebijakan politik luar negeri secara spesifik. Namun, Prabowo berulang-kali menyatakan secara terbuka bahwa dirinya akan meneruskan jalur diplomasi Jokowi di masa depan, yakni kedaulatan , kebijakan yang independen dan non-blok, serta menjaga hubungan persahabatan dengan negara lain.

Namun, John C Chen juga menunjukkan bahwa Prabowo menerima pendidikan Barat sejak kecil. Pada saat yang sama, selama karir militernya, konsep anti-komunisnya telah lama dipengaruhi oleh mantan mertuanya, berbeda dengan presiden Indonesia sebelumnya, ada kemungkinan pemikirannya mengenai pola internasional juga berbeda.

Prabowo pernah menjadi menantu mantan Presiden Indonesia Soeharto, dan keduanya baru berpisah setelah jatuhnya Soeharto. Pada masa kediktatoran Suharto, Prabowo menjabat sebagai komandan pasukan khusus elit Angkatan Darat Indonesia (Kopassus) dan memegang kekuasaan militer.

John C Chen mengatakan kepada CNA, bahwa Indonesia dan Taiwan sama-sama adalah negara demokrasi, saling berbagi nilai demokrasi, di masa mendatang diharapkan dapat melakukan pertukaran terkait isu-isu yang disepakati dan menjadi sorotan bersama.

John C Chen berharap di kedepannya Prabowo dan tim pemerintahannya dapat mengambil pendekatan dan visi yang luas, “mengambil sikap terbuka dan mengambil pendekatan yang paling fleksibel dalam membina hubungan dengan Taiwan, sehingga hubungan antara Taiwan dan Indonesia dapat berkembang lebih lancar.”

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, RRT telah meningkatkan kekuatannya terhadap Indonesia dan menyebarluaskan "Kebijakan Satu Tiongkok" di komunitas internasional dalam upaya untuk mendorong negara-negara seperti Indonesia agar condong berpihak pada “Kebijakan Satu Tiongkok”.

“RRT melakukan segala cara untuk menghambat perkembangan hubungan antara Taiwan dan Indonesia, maka Taiwan harus lebih berhati-hati dalam merencanakan perlawanan RRT dan memperkuat dorongan untuk pembinaan hubungan Taiwan-Indonesia.”

John C Chen menekankan bahwa hubungan antara Taiwan dan Indonesia terus berkembang. Sejak Taiwan mempromosikan “Kebijakan Baru Menuju Selatan” pada tahun 2016, kedua negara telah menandatangani 29 perjanjian dan memorandum kerja sama resmi, termasuk pertanian, ekonomi dan perdagangan, pendidikan, serta perlindungan bagipekerja migran, dan pelatihan sumber daya manusia, penanggulangan bencana alam, pencegahan kejahatan dan narkoba, dan berbagai kerjasama teknis profesional antar pemerintah.

Ia mengatakan, jumlah pelajar Indonesia yang belajar di Taiwan dan jumlah pekerja Indonesia yang bekerja di Taiwan juga semakin meningkat,angka ini cukup besar. “Ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral terus dibina dengan pragmatis dan sederhana, berpegang pada model yang saling menguntungkan, dan telah mencapai hasil yang efektif." Ia juga menyatakan bahwa ke depannya, kedua belah pihak dapat memperdalam kerja sama di bidang medis dan kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, pertanian dan pangan, serta pembangunan dan pengembangan kota.

Komentar

Terbarumore