(Taiwan, ROC) --- Sebuah laporan di media Financial Times yang mengutip pemimpin Tiongkok, Xi Jin-ping (習近平), yang mengatakan bahwa dia tidak akan terpancing untuk menyerang Taiwan. Hal ini serta merta memicu diskusi. Pemerintah AS telah membantah isi laporan tersebut.
Menanggapi hal di atas, Kementerian Luar Negeri di Taiwan (MOFA) mengatakan bahwa Taiwan dan negara-negara sepaham, termasuk Amerika Serikat, terus bekerja untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Namun, masyarakat internasional sangat menyadari pihak mana yang terus-menerus mencoba mengubah status quo.
Mengenai laporan media Financial Times yang mengutip pernyataan pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping yang mengatakan bahwa dia tidak akan terpancing untuk menyerang Taiwan, Departemen Luar Negeri AS menanggapi dengan mengatakan bahwa isi laporan tersebut tidak akurat dan Amerika Serikat telah secara langsung memberi tahu pejabat Beijing bahwa kebijakan satu Tiongkoknya tidak berubah.
MOFA mengatakan bahwa Taiwan dan Amerika Serikat terus berkomitmen untuk menjaga status quo di Selat Taiwan, tetapi masyarakat internasional sangat menyadari siapa yang telah mencari alasan untuk mengubah status quo, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Dirjen Departemen Amerika Utara Kementerian Luar Negeri, Wang Liang-yu (王良玉), mengatakan: "Kami telah lama berdiskusi dengan Amerika Serikat dan negara-negara yang sepaham tentang bagaimana bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan."
Financial Times, melaporkan bahwa pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping mengatakan kepada Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, selama kunjungannya ke Beijing pada bulan April lalu, bahwa Amerika Serikat mencoba untuk memprovokasi dirinya untuk menyerang Taiwan, tetapi dia tidak akan terpancing.
Dia juga mengatakan bahwa konflik dengan Amerika Serikat akan menghancurkan banyak prestasi Tiongkok.
Selain itu, hubungan antara Taiwan dengan negara bagian AS terus meningkat. Dengan dibukanya Pusat Asia-Pasifik New Jersey baru-baru ini, sekarang ada 22 kantor perwakilan bisnis dan perdagangan yang didirikan di Taiwan.
Kementerian Luar Negeri menyambut baik perkembangan ini, dengan mengatakan bahwa hal itu tidak hanya akan membantu menciptakan peluang perdagangan dan investasi, tetapi juga memperdalam pertukaran dan interaksi bilateral di bidang-bidang seperti teknologi dan budaya.