(Taiwan, ROC) – Terkait Presiden Lai Ching-te (賴清德) yang muncul di sampul depan majalah “TIME” dan menyebutkan bahwa kedua sisi selat tidak saling berafiliasi, memicu keraguan dari para akademisi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengenai kurangnya itikad baik. Perdana Menteri Taiwan, Cho Jung-tai (卓榮泰) pada hari ini (14/6) mengemukakan, Presiden Lai dengan jelas mengirimkan pesan itikad baik berupa demokrasi, perdamaian, dan kemakmuran kepada seluruh dunia. Dirinya berharap agar itikad baik ini bisa didengar, dilihat dan diimplementasikan oleh para pemimpin Negeri Panda.
Majalah “TIME” edisi 13 Juni menampilkan wawancara eksklusif dengan Presiden Lai Ching-te (賴清德) sebagai sampulnya. Dalam wawancara tersebut, Presiden Lai menegaskan bahwa pernyataan mengenai Republik Tiongkok dan RRT tidak saling berafiliasi didasarkan pada fakta, dan sama sekali tidak bermaksud untuk memprovokasi. Dirinya juga menyebutkan bahwa Negeri Tirai Bambu seharusnya mengakui keberadaan Republik Tiongkok, serta secara luas menguraikan posisi kebijakan lintas selat. Namun, akademisi Negeri Panda yang fokus pada isu Taiwan berpendapat bahwa jika Presiden Lai mempersiapkan diri dengan baik sebelum wawancara ini dan menampilkan itikad baik kepada Tiongkok, situasi di lintas selat mungkin akan semakin membaik, tetapi Presiden Lai “kembali kehilangan kesempatan yang sangat baik.”
Menanggapi hal tersebut, PM Cho dalam sebuah wawancara saat sebelum menghadiri rapat interpelasi di Yuan Legislatif pada hari ini (14/6) menyampaikan bahwa dalam wawancaranya dengan majalah TIME, Presiden Lai dengan jelas menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga kedaulatan Taiwan. Secara bersamaan, dirinya juga menyampaikan pesan itikad baik berupa demokrasi, perdamaian, dan kemakmuran kepada seluruh dunia, serta berharap agar pihak seberang juga dapat merasakan pesan tersebut. PM Cho mengatakan, “Kami berharap para pemimpin Negeri Tirai Bambu juga dapat mendengar, melihat, dan menerapkan itikad baik ini, sehingga kedua belah pihak dapat berkembang ke arah yang lebih baik. Hal ini bergantung pada lebih banyak interaksi dan upaya dari rakyat kedua belah pihak. Kami akan terus berusaha meningkatkan dan memperkuat hal ini.”
Selain itu, terkait laporan terbaru yang disampaikan kepada Yuan Legislatif oleh Kementerian Pertahanan Nasional (MND) Taiwan menunjukkan bahwa penjualan senjata Amerika Serikat (AS) ke Taiwan telah mencapai kemajuan dramatis, dan dicurigai telah dibesar-besarkan. PM Cho menuturkan bahwa sejauh yang ia ketahui, Taiwan selalu sangat jelas jika AS terus memperhatikan komitmennya terhadap keamanan dan pertahanan Taiwan, serta pihaknya sangat menghargai dan berterima kasih atas hal tersebut. Mengenai laporan MND, tidak ada masalah akan penghindaran atau penundaan. Taiwan akan terus memperkuat pertahanan dan menunjukkan tekad untuk mempertahankan diri, sementara Taiwan dan AS akan terus memperdalam dan memperkuat hubungan kemitraan yang erat, yang juga merupakan kebijakan penting negara.