(Taiwan, ROC) --- Seorang pria berkewarganegaraan Tiongkok mengemudikan speedboat dan menerobos masuk ke Sungai Tamsui beberapa waktu lalu, memicu dugaan adanya celah keamanan nasional. Kepala Biro Keamanan Nasional (NSB), Tsai Ming-yen (蔡明彥), hari ini (12/6) dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa kasus ini memiliki banyak kejanggalan dan masih perlu diselidiki lebih lanjut terkait motifnya, serta kemungkinan adanya keterlibatan operasi dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) di baliknya. Pihaknya tidak mengesampingkan kemungkinan apa pun.
NSB juga akan terus bertukar informasi dengan Coast Guard Administration (CGA) untuk memperkuat pertahanan perbatasan, pengerahan intelijen, dan mekanisme pelaporan. Selain itu, NSB juga akan bertukar informasi dan analisis intelijen dengan negara-negara sahabat terkait gangguan zona abu-abu yang dilakukan Tiongkok.
Pada tanggal 9 Juni 2024, seorang pria yang mengaku sebagai mantan komandan kapal Angkatan Laut Tiongkok mengemudikan speedboat dan menerobos masuk ke Sungai Tamsui dengan dalih ingin membelot.
Menanggapi hal tersebut, Kepala NSB, Tsai Ming-yen, mengatakan bahwa masih banyak kejanggalan dalam insiden ini yang perlu diklarifikasi lebih lanjut.
Tsai Ming-yen menunjukkan bahwa dari sudut pandang keamanan nasional, tidak ada kemungkinan yang dapat dikesampingkan, terutama perlunya memahami lebih lanjut motif kedatangan pria tersebut ke Taiwan dan apakah ada operasi PKT di baliknya.
Di sisi lain, NSB juga akan terus bertukar informasi dengan otoritas CGA guna mengevaluasi langkah memperkuat pertahanan laut dan keamanan perbatasan, serta mempelajari praktik-praktik utama yang dilakukan berbagai negara, dan strategi atau langkah-langkah ke depan untuk memperkuat mekanisme pertahanan perbatasan.
Tsai Ming-yen mengatakan, "Karena kasus ini sedang dalam penyelidikan polisi, kami menghormati proses dan hasil penyelidikan yudisial terkait. Dari sisi keamanan nasional, kami akan secara khusus menargetkan latar belakang militer pria tersebut, serta aktivitasnya di Tiongkok di masa lalu, untuk melakukan pengumpulan intelijen yang komprehensif. Kami juga akan memberi tahu unit keamanan nasional untuk bersama-sama memperkuat pengerahan intelijen terkait dan mekanisme pelaporan untuk menangani kejadian serupa di masa mendatang."
Tsai Ming-yen menyatakan bahwa sejak awal tahun ini, Tiongkok terus melancarkan aksi gangguan terhadap Taiwan, misal pembukaan rute penerbangan M503, patroli kapal Penjaga Pantai Tiongkok di sekitar Selat Taiwan, aktivitas kapal resmi Tiongkok di perairan sekitar Taiwan dan pulau-pulau terluar, serta operasi drone Tiongkok di wilayah udara Taiwan.
Jika digabungkan, tidak menutup kemungkinan bahwa semua aktivitas ini merupakan gangguan zona abu-abu yang tengah dilakukan oleh Negeri Tirai Bambu.
Hal ini juga menjadi fokus perhatian Taiwan tahun ini. Ia menunjukkan bahwa karena negara-negara tetangga seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina juga sangat memperhatikan gangguan zona abu-abu Tiongkok, hal ini memberikan banyak peluang kerja sama bagi Taiwan dan sekutu internasionalnya untuk bertukar informasi dan analisis terkait, serta bersama-sama menanggapi tindakan baru ini.
Selain itu, dalam wawancara eksklusif yang diterbitkan media The Washington Post pada tanggal 10 Juni 2024, Komandan Komando Indo-Pasifik AS, Samuel Paparo, menyatakan bahwa jika Tiongkok menyerang Taiwan dengan paksa, maka militer AS akan mengerahkan ribuan kapal selam tak berawak, kapal permukaan tak berawak, dan drone di Selat Taiwan untuk mengulur waktu melakukan serangan balik.
Menanggapi peryataan Samuel Paparo di atas, Tsai Ming-yen mengatakan NSB sangat mementingkan pandangan sekutu internasional terhadap situasi di Selat Taiwan. Hal ini juga menunjukkan bahwa sekutu internasional terus memperhatikan ekspansi militer Tiongkok di Selat Taiwan.
NSB akan terus bertukar informasi terkait dengan sekutu internasional mengenai pola aktivitas militer Tiongkok, serta kemungkinan dilancarkannya invasi militer ke Taiwan, atau berbagai tindakan gangguan zona abu-abu. NSB juga akan memperkuat kerja sama dengan sekutu untuk menanggapi berbagai kemungkinan.
Seorang pria berkewarganegaraan Tiongkok mengemudikan speedboat menerobos masuk langsung ke Sungai Tamsui, yang kemudian memicu kekhawatiran di Taiwan.
Saat meninjau hasil kerja pemberantasan narkoba oleh enam unit, termasuk CGA, pada Rabu hari ini (12/6), Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan bahwa dia mengetahui kerja keras oleh otoritas CGA dalam menjaga keamanan nasional. Namun, kerja keras tersebut harus mendapatkan lebih banyak kepercayaan dari masyarakat.
Publik khawatir dengan insiden kapal penangkap ikan yang menerobos masuk ke Sungai Tamsui, dan pemerintah berkewajiban untuk melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional secara komprehensif.
Perdana Menteri Cho Jung-tai mengatakan bahwa dia tahu semua petugas penegak hukum yang menjaga gerbang keamanan nasional telah bekerja keras, tetapi kerja keras mereka harus mendapatkan lebih banyak kepercayaan dari masyarakat.
Dia menunjukkan bahwa insiden kapal penangkap ikan yang menerobos masuk ke Sungai Tamsui telah membuat publik khawatir, dan pemerintah berkewajiban untuk mengurangi kekhawatiran publik dan melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional.
Cho Jung-tai mendorong Penjaga Pantai untuk tidak berkecil hati, terus bekerja keras, dan pemerintah juga akan meninjau semua tindakan pencegahan, mempertahankan keamanan nasional, dan memungkinkan masyarakat untuk hidup dan bekerja dalam kedamaian.
Cho Jung-tai mengatakan, "Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengurangi kekhawatiran rakyat, dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan lebih banyak pekerjaan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional secara lebih komprehensif di masa depan. Jadi, sehubungan dengan kerja keras saudara dan saudari Penjaga Pantai kita, selain berharap Anda tidak berkecil hati dan terus bekerja keras, masalah ini juga harus dijelaskan seterang-terangnya kepada masyarakat, tanggung jawab harus jelas, penanganan harus cepat. Pemerintah selanjutnya juga harus meninjau berbagai peralatan keamanan nasional dan personel keamanan nasional yang perlu diperkuat. Kita harus mengejar ketinggalan selangkah demi selangkah."
Cho Jung-tai hari ini meninjau hasil kerja pemberantasan narkoba dari enam sistem utama di Taiwan, meliputi kejaksaan, polisi, investigasi, keamanan, penjaga pantai, dan bea cukai. Dia mengatakan bahwa narkoba itu beragam dan membutuhkan peralatan khusus untuk diproduksi.
Dia mengkritik mereka yang memproduksi dan menjual narkoba, karena tidak manusiawi dan telah merusak kesehatan fisik dan mental banyak warga negara.
Cho Jung-tai berterima kasih kepada enam sistem utama karena telah melindungi kehidupan dan keselamatan masyarakat, dan mereka adalah enam dewa pelindung masyarakat.
Cho Jung-tai mendorong enam sistem utama di atas untuk terus bekerja keras, tidak peduli seberapa liciknya para penjahat, mereka tidak akan pernah bisa mengalahkan enam dewa pelindung yang pemberani. Dia mengatakan bahwa pemerintah akan mendukung enam dewa pelindung dari segi tenaga kerja, kebijakan, dan peralatan, serta harus memenangkan pertempuran melawan narkoba ini.