(Taiwan, ROC) Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) pada hari ini mengeluarkan pernyataan penjualan senjata untuk Taiwan gelombang terbaru, dengan total dana mencapai US$ 300 juta (setara dengan NT$ 9, 67584 milyar, mencakup pesawat tempur F-16 dilengkapi dengan suku cadang dan perbaikan terkait hampir mencapai US$ 220 juta, ditambah dengan perlengkapan non standar dan komponen dan perbaikannya mencapai US$ 80 juta, menjadi penjualan senjata untuk Taiwan ke-14 kalinya selama pemerintahan Joe Biden.
DSCA mengeluarkan pers rilis dan menyampaikan, Kemenlu meloloskan 2 program penjualan senjata, DSCA pada hari ini juga menyampaikan kepada kongres AS. Naskah pers menyampaikan, Kantor Perwakilan Ekonomi dan Budaya Taipei di AS meminta pengadaan pesawat tempur F-16 dan dilengkapi dengan perbaikan komponen, suku cadang dan produk bahan habis pakai dan pemerintah AS dan kontraktor menyediakan layanan teknisi, teknologi dan logistik, diprakirakan mencapai US$ 220 juta.
Saat bersamaan kantor perwakilan setempat juga meminta pengadaan suku cadang, perbaikan non-standar, komponen serta produk habis pakai yang disediakan pemerintah dan kontraktor AS, diprakirakan hampir mencapai US$ 80 juta.
Dalam naskah pers menyampaikan, Kemenlu AS juga menyetujui penjualan senjata, mendukung upaya Taiwan untuk memperkuat kemiliterannya, pertahanan nasional, kedepan akan mendapat persiapan pesawat tempur F-16, untuk meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman saat ini dan masa depan.
Pers rilis juga menyampaikan, 2 proyek penjualan senjata memenuhi kepentingan AS baik dalam sektor dalam negeri, ekonomi maupun keamanan, serta bermanfaat bagi keamanan Taiwan, menjaga stabilitas geopolitik, keseimbangan kekuatan urusan kemiliteran dan kemajuan perekonomian. Semua perlengkapan ini ditransfer dari angkatan udara AS untuk Taiwan.
Penjualan senjata untuk Taiwan gelombang kali ini merupakan yang ke-14 kalinya sejak pemerintahan Presiden Joe Biden pada tahun 2021.
Kantor perwakilan Taipei di AS menyampaikan terima kasih atas tindakan nyata AS memenuuhi “hukum hubungan Taiwan dan “Six Assurances” untuk menjaga keamanan Taiwan, memperkuat pertahanan keamanan Taiwan dan meningkatkan stabilitas dan perdamaian Taiwan dan kawasan regional.
Kemenlu mengemukakan, belakangan RRT terus memberikan ancaman militer kepada Taiwan, ditambah lagi intervensi pada zona abu-abu, AS dan negara-negara yang berpandangan sepaham kembali menegaskan ancaman RRT yang tidak rasional merusak status quo selat Taiwan, maka Taiwan berlanjut menjalin hubungan baik dengan AS.
Wakil Juru Bicara Kemenlu Hsiao Kuang-Wei mengatakan, “Menghadapi berbagai ancaman dari RRT, Taiwan bertekad menjaga pertahanan nasional, berlanjut meningkatkan pertahanan diri dan kekuatan militer yang asimetris, bersikeras hidup yang berpegang pada demokrasi dan kebebasan, melalui kekuatan nyata menggapai perdamaian, memperdalam hubungan kemitraan dengan AS, berkomitmen menjaga tatanan internasional, memperomisikan perdamaian, stabilitas dan kemakmuran selat Taiwan dan kawasan Indo Pasifik.”