History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Tiongkok Terus Membatasi Ruang Gerak Internasional Taiwan, MOFA: Tidak Menutup Kemungkinan Tiongkok akan Membujuk Negara Sahabat

  • 28 May, 2024
  • 尤繼富
Tiongkok Terus Membatasi Ruang Gerak Internasional Taiwan, MOFA: Tidak Menutup Kemungkinan Tiongkok akan Membujuk Negara Sahabat
Tiongkok Terus Membatasi Ruang Gerak Internasional Taiwan, MOFA: Tidak Menutup Kemungkinan Tiongkok akan Membujuk Negara Sahabat

(Taiwan, ROC) --- Tiongkok terus-menerus mempersempit ruang internasional Taiwan. Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA) memperkirakan bahwa Tiongkok akan terus memperkuat apa yang disebut sebagai pola "Satu Tiongkok" di forum internasional, memutarbalikkan Resolusi Majelis Umum PBB No. 2758, dan menuntut negara-negara lain untuk menyangkal status kedaulatan Taiwan.

Mereka bahkan tidak menutup kemungkinan untuk sekali lagi mengeluarkan biaya besar untuk menarik negara-negara sahabat Taiwan agar beralih pihak. Yang mana ini dilakukan guna memenuhi "tuntutan" dalam negeri, serta menyatakan posisi luar negeri, dan memberikan peringatan kepada Taiwan.

Pada tanggal 29 Mei 2024, MOFA akan memberikan laporan di Yuan Legislatif mengenai "Perkembangan Situasi Internasional dan Lintas Selat Setelah Pelantikan Presiden ke-16 dan Dampaknya Terhadap Keamanan Nasional Taiwan".

Dalam laporan tertulis, MOFA menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, karena kebangkitan kekuatan nasional Tiongkok, ambisi ekspansi luar negeri, dan upaya untuk mewujudkan apa yang disebut "Impian Kebangkitan Besar Bangsa Tionghoa", membuat ancaman militer Beijing terhadap Taiwan semakin meningkat. Di samping itu, tekanan diplomatik yang dirasakan Taiwan semakin parah, dan pemaksaan ekonomi terus meningkat.

Selain itu, situasi internasional semakin kompleks dan bergejolak, dengan konflik geopolitik global seperti perang Rusia-Ukraina, konflik Israel-Hamas, dan meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan, yang pasti akan berdampak pada Taiwan dalam aspek keamanan, diplomasi, dan ekonomi.

MOFA juga menunjukkan bahwa terkait isu Selat Taiwan, seluruh dunia adalah pemangku kepentingan. Konsensus tinggi dalam komunitas internasional saat ini adalah mempertahankan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik.

Negara-negara terus-menerus menyerukan bahwa "isu Selat Taiwan" harus diselesaikan dengan cara damai, perang bukanlah pilihan, dan tidak ada pihak yang boleh secara sepihak mengubah status quo dengan cara yang tidak damai.

Tiongkok mengadakan latihan militer "Joint Sword – 2024A" di sekitar Taiwan, yang kemudian meningkatkan ketegangan di kawasan regional.

MOFA menyatakan bahwa Tiongkok mengabaikan konsensus internasional untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, dengan melakukan tindakan provokatif militer secara sepihak. Hal ini dianggap sebagai ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan Taiwan serta stabilitas regional.

MOFA menyatakan penyesalannya atas tindakan ini dan berterima kasih kepada masyarakat internasional, termasuk Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

MOFA memperkirakan bahwa Tiongkok akan terus meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Taiwan di tingkat internasional, serta membatasi ruang gerak Taiwan dan memperkuat apa yang disebut sebagai pola "Satu Tiongkok".

Tiongkok diperkirakan akan memutarbalikkan Resolusi Majelis Umum PBB No. 2758 dan meningkatkan permintaan kepada negara-negara lain untuk mengakui prinsip "Satu Tiongkok", dengan tujuan untuk meniadakan status kedaulatan Taiwan dan mengisolasi Taiwan di panggung internasional.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa Tiongkok akan sekali lagi mengeluarkan biaya besar untuk menarik negara-negara sahabat Taiwan agar beralih pihak, dengan tujuan memberikan pesan kepada dunia internasional dan memperingatkan Taiwan.

Selain itu, MOFA menyatakan bahwa Tiongkok mungkin akan memperburuk pemaksaan ekonomi terhadap Taiwan dengan memanfaatkan perdagangan, sumber daya, dan ekonomi sebagai senjata.

Tiongkok juga diperkirakan akan berusaha menghalangi Taiwan untuk menandatangani perjanjian perdagangan bilateral dengan negara lain atau bergabung dengan mekanisme integrasi ekonomi regional seperti "Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik" (CPTPP), guna memperluas tekanan ekonomi terhadap Taiwan.

MOFA menegaskan akan mendorong diplomasi berbasis nilai, menggunakan demokrasi, perdamaian, dan kemakmuran untuk memperdalam hubungan internasional Taiwan.

Taiwan akan terus memperkuat hubungan dan kerja sama dengan negara-negara yang memiliki visi serupa, serta menggabungkan sumber daya dan kekuatan dari dalam dan luar negeri untuk mengurangi dampak negatif dari perkembangan situasi lintas selat dan internasional terhadap keamanan nasional Taiwan.

Komentar

Terbarumore