(Taiwan, ROC) – Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) Tiongkok pada hari ini (23/5) mengumumkan akan mengadakan latihan militer gabungan “Join Sword – 2024A” di sekitar Taiwan mulai hari ini hingga besok (23-24 Mei), serta menegaskan jika manuver tersebut sebagai “hukuman” atas “tindakan separatis”.
Menanggapi hal ini, seorang mahasiswa yang akan segera menjalani wajib milter menyatakan, “ini seperti peringatan bencana gempa bumi, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan”. Bahkan ada seorang ayah bermarga Wu, memperkirakan bahwa Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tidak akan benar-benar menggunakan kekerasan, tetapi jika hal tersebut terjadi, maka dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Berbeda dengan sikap acuh tak acuh dari Wu, seorang ibu bermarga Zhang yang berprofesi sebagai guru di sekolah dasar, sangat khawatir akan situasi antara kedua belah pihak saat ini.
“Saya sangat takut kalau terjadi salah tembak, jikalau presiden baru kita benar-benar keras, dan benar-benar mengirim rakyat kita ke medan perang, maka kehidupan kita yang sekarang relative damai dan sejahtera mungkin tidak akan bisa terus berlanjut! Terutama karena kami memiliki dua anak, mungkin saja bisa dipanggil oleh negara untuk pergi berperang. Jika benar-benar ada perang, yang pertama masuk ke medan perang adalah para pemuda. Anak kami pasti akan menjadi yang pertama perbgi berperang, dan pasti akan menjadi korban sia-sia! Jadi, tentu saja saya khawatir!” kata Zhang.
Zhang merasa bahwa pidato pelantikan presiden baru, Lai Ching-te (賴清德), sama saja dengan melemparkan ide “dua negara” yang baru, dan ditakutkan akan memicu perselisihan yang tidak perlu atau bahkan perang antara kedua belah pihak, itulah yang paling dikhawatirkan oleh dirinya.