(Taiwan, ROC) --- Wakil Menteri Dalam Negeri Wu Tang-an (吳堂安) pada Rabu kemarin (3/4) menyatakan, tahun ini menandai 35 tahun sejak pengorbanan Cheng Nan-jung (鄭南榕). Kementerian Dalam Negeri (MOI) menggunakan tema "Rasa Kebebasan" untuk merasakan perjuangan para pendahulu dalam memperjuangkan demokrasi dan kebebasan dari berbagai sudut pandang.
Ia mengajak masyarakat untuk menghargai dan menjaga demokrasi dan kebebasan yang diperoleh Taiwan dengan susah payah.
MOI bersama dengan Yayasan Peringatan Insiden 228 dan Yayasan Cheng Nan-jung pada Rabu kemarin (3/4) menyelenggarakan upacara pembukaan rangkaian kegiatan "Hari Kebebasan Berbicara", dengan mengundang Wu Tang-an, istri mendiang Cheng Nan-jung, Yeh Chu-lan (葉菊蘭), dan putri Cheng Nan-jung sekaligus Ketua Yayasan Cheng Nan-jung, yakni Cheng chu-mei (鄭竹梅).
Dalam pidatonya, Wu Tang-an, mengatakan bahwa tahun ini menandai 35 tahun pengorbanan Cheng Nan-jung.
Untuk memperingati perjuangan Cheng Nan-jung dalam mempertahankan prinsip "100% kebebasan berbicara", MOI memilih tema "Rasa Kebebasan", menggelar serangkaian kegiatan.
Melalui berbagai kegiatan seperti pameran, festival film hak asasi manusia, dan seri seminar, MOI ingin menghubungkan aktivitas yang paling familiar dalam keseharian masyarakat dengan perjuangan para pendahulu dalam meraih demokrasi dan kebebasan.
Wu Tang-an menyebutkan, pada akhir tahun 2016, pemerintah telah menetapkan setiap tanggal 7 April, yakni hari wafatnya Cheng Nan-jung sebagai "Hari Kebebasan Berbicara".
Cheng Nan-jung tidak ragu mengorbankan nyawanya yang berharga, menabur benih untuk memperjuangkan "100% kebebasan berbicara".
Kegigihannya berhasil mempercepat amandemen Pasal 100 dari KUHP dan pembatalan Undang-undang Penindasan Pemberontakan, demi meletakkan kebebasan berbicara sebagai fondasi demokrasi konstitusional.
Wu Tang-an menekankan bahwa hal ini tidak hanya memastikan kebebasan berpikir, akademis, dan berbicara bagi masyarakat, tetapi juga membimbing Taiwan dari otoritarianisme menuju demokrasi. Cheng Nan-jung tidak hanya menjadi simbol semangat, tapi juga berhasil menanamkan demokrasi dan kebebasan secara mendalam di Bumi Formosa.
Cheng chu-mei mengungkapkan bahwa saat ayahnya meninggal dunia, ia baru berusia 9 tahun. Dari tahun 2014 hingga 2024, ia mewawancarai banyak teman ayahnya dari berbagai periode.
Setelah pembentukan Komisi Transisi Keadilan pada tahun 2018, ia juga meninjau arsip politik ayahnya yang diawasi, untuk memahami bagaimana Cheng Nan-jung diperlakukan dari perspektif pemerintah pada 1980-an, dan berusaha mendalami keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan seperti itu pada waktu tersebut.
Cheng chu-mei menunjukkan bahwa kini, mengenang Cheng Nan-jung melalui hari peringatan nasional adalah sesuatu yang tidak mungkin pada masanya. Makna dari hari peringatan nasional adalah untuk mengubah kenangan pribadi dan keluarga menjadi memori kolektif, untuk kemudian mengenang Cheng Nan-jung dengan cara yang berbeda setiap tahunnya.
Cheng chu-mei menegaskan bahwa kebebasan itu sangat rapuh dan tidak datang secara gratis, melainkan harus menghadapi tantangan yang sulit. Kebebasan berbicara tidak berarti berbicara tanpa batas, tetapi bertanggung jawab atas apa yang dikatakan.
MOI menjelaskan bahwa "Hari Kebebasan Bicara" akan diadakan semenjak 7 April 2024 hingga 25 Mei 2024.
Kegiatan ini akan diisi dengan serangkaian aktivitas, meliputi pameran film kebebasan HAM, seminar, dan tur jalan kaki di luar ruangan. Selain itu, juga akan dipersiapkan banyak merchandise terbatas teruntuk partisipan masyarakat.