(Taiwan, ROC) - Ziarah tahunan yang dilakukan dari kuil-kuil Dewi Mazu ke Kuil Chao-Tian di Beigang, salah satu kuil kuno paling terkenal yang didirikan sekitar tahun 1700 di Kabupaten Yunlin, telah ditetapkan sebagai aset warisan budaya penting nasional.
Ziarah Mazu di Beigang, beserta makna budaya dan agamanya, mewakili keragaman nasional dan lintas wilayah, kata Menteri Kebudayaan Shih Che (史哲) seperti dikutip dalam siaran pers Kementerian Kebudayaan (MOC) pada hari Minggu.
MOC mengatakan, semua peserta dalam pertemuan untuk meninjau kembali tradisi dan kebiasaan rakyat Taiwan pada hari Sabtu bersepakat untuk meningkatkan status ziarah tersebut, yang saat ini ditetapkan sebagai "Adat Istiadat Rakyat Kabupaten Yunlin".
Peningkatan status ini akan segera resmi diumumkan, kata MOC, menambahkan bahwa Kuil Chao-Tian akan diakui sebagai lembaga pelestarian kegiatan rakyat tersebut, dan menjadi entitas pertama di Taiwan yang bertanggung jawab menjaga dua aset warisan budaya yang memiliki kepentingan nasional.
Pada tahun 2011, Kuil Chao-Tian yang menampung jutaan jamaah Mazu yang membentuk 3.000 kelompok ziarah setiap tahunnya, ditugaskan untuk melestarikan prosesi tahunan Mazu di Beigang pada hari ke-19 dan ke-20 bulan lunar ketiga, yang mana acaranya mencakup dibawanya patung dewi laut dengan tandu untuk mengelilingi Kabupaten Yunlin.
Perjalanan tersebut dipercaya dapat membawa keberuntungan bagi wilayah selatan Taiwan, namun kunjungan dari kuil-kuil Mazu lainnya di seluruh negeri sepanjang tahun, yaitu praktik yang baru saja ditetapkan sebagai aset budaya penting, diyakini dapat meningkatkan kekuatan suci dari kuil-kuil Mazu di berbagai pelosok.
Mazu, juga dikenal dengan nama lain seperti Tian Hou (Ratu Surga), adalah dewi yang telah dipuja setidaknya sejak abad ke-12. Berasal dari provinsi Fujian di Tiongkok tenggara, Mazu pada masa hidupnya adalah seorang dukun Fujian yang diyakini memiliki kekuatan khusus dalam melindungi nelayan dan pelaut.
Selama berabad-abad, pemujaan terhadap Mazu menyebar ke seluruh wilayah pesisir Tiongkok dan komunitas Tionghoa perantauan di Asia Tenggara. Kepercayaan terhadap Mazu dibawa ke Taiwan oleh pemukim awal dari Daratan Tiongkok dan masih dianut secara luas, dan kini dianggap sebagai pelindung semua orang, tidak hanya nelayan dan pelaut.