(Taiwan, ROC) --- Pada Kamis hari ini (25/1), Wakil Presiden Lai Ching-te (賴清德) bertemu dengan delegasi parlemen Lituania.
Dalam pertemuan persahabatan tersebut, Lai Ching-te menyatakan bahwa Tiongkok telah merayu negara sekutu Taiwan, Nauru, untuk memutuskan hubungan diplomatik setelah pemilu Taiwan selesai dihelat.
Hal ini jelas memperlihatkan sifat ekspansi otoriter Tiongkok, yang tentunya mendatangkan tantangan bagi tatanan internasional dan stabilitas regional.
Beliau juga menegaskan bahwa Tiongkok salah dalam menginterpretasikan Resolusi 2758 PBB, yang mengakibatkan Taiwan dikecualikan dari sistem internasional. Lai Ching-te menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan ini, dirinya akan melanjutkan upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan atas dasar yang telah dibangun oleh Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文)
Hari ini (25/1), Wakil Presiden Lai Ching-te, bertemu dengan delegasi Kongres AS, Taiwan Caucus, yang terdiri dari anggota lintas partai AS, serta Grup Kunjungan Persahabatan Parlemen Lituania, yang dipimpin oleh Ketua Grup Parlemen Lituania, yakni Matas Maldeikis.
Kandidat Wakil Presiden terpilih, Hsiao Bi-khim (蕭美琴), juga hadir mendampingi pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan dengan Wakil Ketua Taiwan Caucus, Mario Diaz-Balart dan Ami Bera, Wakil Presiden Lai Ching-te, menyatakan bahwa Taiwan memiliki posisi strategis yang krusial dalam menghadapi ekspansi otoritarianisme Tiongkok, mengingat letaknya yang berada di ujung pertama rantai pulau Pasifik Barat.
Stabilitas Selat Taiwan sangat penting untuk perdamaian dan kemakmuran regional. Selama 8 tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden Tsai Ing-wen, Taiwan telah mendapatkan dukungan dan kepercayaan yang luas dari komunitas internasional.
Lai Ching-te berencana untuk menyatukan rakyat Taiwan dan memperkuat ketahanan sosial pada fondasi yang sudah dibangun oleh Presiden Tsai, serta menjaga stabilitas status quo Selat Taiwan.
Ia juga berharap AS akan terus mendukung Taiwan dalam memperkuat pertahanan diri, serta mengukuhkan hubungan bilateral, dan bekerja sama dengan mitra demokrasi untuk memastikan perdamaian dan kemakmuran regional.
Dalam pertemuannya dengan Ketua Grup Parlemen Lituania, Matas Maldeikis, dan tim rombongan yang mendukung Taiwan, Wakil Presiden Lai Ching-te menyatakan, meskipun harus menghadapi gangguan belum pernah terjadi sebelumnya, yang dilancarkan oleh Tiongkok, tetapi rakyat Taiwan tetap tidak takut akan ancaman yang ada.
Selain itu, Taiwan juga telah berhasil menyelesaikan sebuah perayaan demokrasi yang mendapat perhatian dunia, yang mana ini tentunya memperlihatkan tekad rakyat Taiwan untuk melindungi nilai-nilai demokrasi.
Lai Ching-te kemudian membahas tentang tekanan dan intimidasi yang dilakukan Tiongkok terhadap Taiwan di panggung internasional.
Pengumuman Nauru untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan, jelas memperlihatkan sifat ekspansi otoriter Tiongkok lebih lanjut.
Beliau menegaskan kembali komitmennya untuk mencari kemakmuran di Selat Taiwan atas dasar yang telah dibangun oleh Presiden Tsai Ing-wen.
Lai Ching-te mengatakan, "Tiongkok merayu negara sekutu kami, Nauru, untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan kami. Mereka sengaja memilih waktu setelah pemilu selesai dihelat. Tindakan ini sepenuhnya mengekspos sifat ekspansi otoriter, serta tantangan terhadap tatanan internasional dan stabilitas regional. Dalam menghadapi tantangan ini, misi terpenting saya ke depan adalah untuk melanjutkan pelestarian status quo di Selat Taiwan dan stabilitas regional, serta berdialog dan berinteraksi dengan Tiongkok di bawah premis kesetaraan dan martabat, guna meningkatkan kesejahteraan rakyat kedua belah pihak, dan mencapai tujuan bersama, yakni perdamaian."
Lai Ching-te melanjutkan bahwa Tiongkok terus menerus secara keliru menginterpretasikan Resolusi 2758 PBB. Yang mana hal ini berakibat pada terkucilnya 23 juta rakyat Taiwan dari sistem PBB, yang tentunya juga merugikan kerja sama global dan komunitas internasional.
Wapres Lai juga berterima kasih atas dukungan Lituania untuk memperluas partisipasi internasional Taiwan dan berharap dengan bantuan Lituania, suara pendukung Taiwan di dunia akan semakin meningkat.