(Taiwan, ROC) --- Pemilu memilih Presiden dan Wakil Presiden, serta Anggota Legislatif di Taiwan telah selesai digelar. Meski demikian, banyak orang diberitakan mengalami gejala kecemasan, depresi, dan depresi manik ringan, sebelum dan sesudah pemilu berlangsung.
Dokter Departemen Psikiatri Rumah Sakit Taoyuan, Wang Shao-cheng (王紹丞), menyebut gejala ini sebagai "Sindrom Pasca-Pemilu". Ia menekankan bahwa tekanan besar yang dirasakan orang-orang selama pemilu, serta informasi yang berseliweran dari berita dan media sosial dapat mendatangkan kecemasan.
Dokter Wang menyarankan untuk menghindari informasi semacam itu di masa pasca-pemilihan, dan jika terus berdampak pada pekerjaan, kehidupan, atau hubungan sosial, maka sebaiknya mencari bantuan dari psikiater.
Dokter Wang Shao-cheng menyatakan bahwa meskipun istilah "Sindrom Pasca-Pemilu (Post-Election Stress Disorder)" bukan terminologi medis resmi, tetapi pengaruh psikologis pemilu terhadap masyarakat memang nyata adanya.

圖/ingimage
Suasana sosial yang tegang selama pemilu, serta meningkatnya polarisasi politik, dan fluktuasi emosi adalah beberapa faktor pemicu. Masalah yang disebabkan oleh kelebihan informasi akan semakin serius.
Membludaknya proporsi media sosial yang membanjiri kehidupan sehari-hari dengan banyak informasi yang kebenarannya sering diragukan, bukan tidak mungkin malah akan menyebabkan kehilangan kendali atas masa depan dan menurunnya rasa kepercayaan antar satu sama lain.
Hal di atas bukan tidak mungkin akan meningkatkan rasa cemas dan mudah marah.
Dokter Wang Shao-cheng melanjutkan, belakangan ini sering ditemukan orang-orang yang mengeluh "sangat khawatir memberikan suara kepada seseorang atau partai tertentu akan menyebabkan bencana yang tak terhindarkan".
Hal ini akan lebih mudah mempengaruhi mereka yang sangat bersemangat tentang isu pemilu atau yang terlibat langsung dalam pemilu, serta mereka yang awalnya memang sudah memiliki masalah psikis.

圖片來源/freepik
Gejala "Post-Election Stress Disorder" bisa dibagi menjadi dua fase, sebelum dan setelah pemilu.
Sebelum pemilu, gejala yang akan muncul meliputi kecemasan, kualitas tidur yang dangkal, insomnia, kekhawatiran berlebihan, kesulitan untuk fokus, mudah marah, atau bahkan bisa muncul ketidaknyamanan fisik yang tidak spesifik, seperti sakit kepala, sakit perut, rasa sesak di dada, dan jantung berdebar.
Setelah pemilu, jika hasilnya tidak sesuai harapan, maka bisa muncul depresi, perasaan kehilangan yang berat, kehilangan minat terhadap berbagai hal, nafsu makan menurun, kelelahan, dan perasaan putus asa terhadap hidup.
Ada juga beberapa orang yang selama masa pemilu mengalami depresi manik, ditandai dengan kegembiraan yang berlebihan, kualitas tidur yang berkurang, terus-menerus berbicara dan terlibat dalam kegiatan kampanye. Antusias ini tetap berlangsung setelah pemilu berlangsung, bahkan terkadang bisa terlibat dalam pertengkaran dengan orang lain.

僅為情境配圖,取自Shutterstock
Dokter Wang Shao-cheng menyarankan, jika gejala-gejala yang disebutkan di atas muncul, ada 4 cara untuk meredakannya. Pertama, sementara waktu menjauhi berita dan informasi media terkait pemilu. Kedua, tetap tenang dan lakukan aktivitas lain untuk mengalihkan perhatian. Ketiga, gunakan metode seperti olahraga dan meditasi kesadaran penuh untuk meredakan emosi. Keempat, tetap berhubungan dengan keluarga dan teman untuk berbagi perasaan Anda.
Dokter Wang Shao-cheng mengingatkan, jika Anda atau orang yang Anda kenal merasa terganggu secara emosional karena pemilu, dan ini terus berlanjut hingga mempengaruhi fungsi kerja, kehidupan sehari-hari, atau hubungan interpersonal, maka disarankan untuk mencari bantuan di klinik psikiatri, untuk memperoleh penilaian dan dukungan lebih lanjut.