(Taiwan, ROC) – Media Financial Times melaporkan, bahwa Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden berencana mengirimkan delegasi tingkat tinggi yang terdiri dari para mantan pejabat untuk berkunjung ke Taiwan setelah pemilihan umum (Pemilu). Laporan itu menunjukkan bahwa langkah ini dapat mempersulit hubungan AS dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk menstabilkan hubungan yang tegang.
Laporan Financial Times yang mengutip 5 orang yang familiar dengan masalah ini menyampaikan, bahwa Gedung Putih berencana untuk berkunjung ke Taiwan dengan delegasi bipartisan yang dipimpin oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri AS dari Partai Demokratik, James Steinberg dan Penasehat Keamanan Nasional dari Partai Republik, Stephen Hadley.
Laporan dari Washington ini menyebutkan, bahwa pemerintahan Biden sebelumnya pernah mengirimkan 2 delegasi tingkat tinggi dan terdiri dari para mantan pejabat untuk menunjukkan dukungannya kepada Taiwan, tapi delegasi yang dikirim segera setelah Pemilu Taiwan bukanlah hal yang biasa.
Seorang mantan pejabat AS menyampaikan kepada Financial Times bahwa langkah Biden ini beresiko dapat menjadi bumerang.
Orang tersebut menyampaikan, bahwa di saat yang sensitif ini, tujuan utama AS seharusnya menunjukkan kepada Beijing dan Taipei rasa menahan diri. Pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Taiwan di saat seperti ini seperti “memeluk Taipei dengan erat” serta memberikan alasan bagi Beijing untuk bersikap berlebihan. Mantan pejabat itu menyampaikan, bahwa cara yang lebih “halus” mungkin lebih efektif.
Seorang lainnya yang memahami hal ini menyampaikan, bahwa konsep Biden terkait delegasi ke Taiwan merupakan sebuah “ide yang buruk”, sebab Taipei dan Beijing mungkin akan menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan agenda masing-masing, dan dapat memberikan masalah kebijakan bagi Washington. Ia juga menunjukkan, bahwa politisi Taiwan dapat mendeskripsikan dan menginterpretasikan kunjungan ke Taiwan ini sesuai dengan tujuan khusus mereka, yang dapat meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan.
Laporan ini juga menunjukkan, bahwa ada opini yang mendukung ide Gedung Putih dan percaya hal tersebut dapat menolong Taiwan. Bonnie Glaser, seorang pakar urusan RRT dan Taiwan dari German Marshall Fund menyampaikan, bahwa memberikan dukungan kepada sistem demokrasi dan presiden baru Taiwan merupakan hal yang penting, dan hal itu akan lebih menguntungkan dengan bipartisan.
Laporan itu menunjukkan, bahwa 2 tahun yang lalu, Biden telah menugaskan mantan Kepala Ketua Gabungan (Joint Chiefs of Staff) Mike Mullen, dan mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan Michele Flournoy untuk berkunjung ke Taiwan, menyampaikan kepada Taipei bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Beijing mengambil kesempatan dalam agresi Rusia terhadap Ukraina.
Sebelumnya, ketika RRT meningkatkan ancaman militernya terhadap Taiwan, Biden telah mengirimkan delegasi bipartisan ke Taiwan yang terdiri dari James Steinberg dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri dari Partai Republik, Richard Armitage.