(Taiwan, ROC) Kemenlu kemarin (3/1) menyampaikan, majalah The Economist mengundang Menlu Joseph Wu untuk menulis, tulisan yang disampaikan Menlu Joseph Wu menunjuk niat RRT bermaksud mengikis sistem demokrasi Taiwan, mengimbau komunitas internasional memperketat pengawasan terhadap RRT yang mengintervensi pemilu negara demokratis, bersama menjaga fondasi tatanan internasional.
Kemenlu mengemukakan, Menlu Joseph Wu diminta The Economist untuk memberikan naskah tulisan tentang Taiwan’s coming elections: What is at stake? Tulisannya diterbitkan kemarin.
Menlu Joseph Wu menjelaskan, Taiwan telah menjalani 7 kali pemilihan demokrasi dan 3 kali peralihan kekuasaan secara damai, setiap kali pemilu adalah proses dan pencapaian demokrasi, beberapa periode pemilu selalu menghadapi intervensi berupa ncaman militer RRT dan tekanan ekonomi. RRT selalu memanfaatkan keterbukaan komunitas demokrasi Taiwan, melalui perang siber, penyebaran hoaks dan lainnya, untuk memanipulasi dan membuat pemilih merasa rancu.
Menlu Joseph Wu mengatakan, RRT mengujicoba pengaruh otoriternya terhadap Taiwan. Jika RRT berhasil melemahkan nilai kebebasan demokrasi Taiwan, akan mencoba ikut campur dalam kubu demokrasi global di masa depan. Pemilu Taiwan yang jatuh pada tanggal 13 Januari menjadi satu dari lebih dari 40 pemilu di seluruh dunia tahun ini maka komunitas internasional diimbau bersikap tegas dalam menghadapi otoritarianisme yang memanipulasi pemilu di negara demokratis.
Menlu Joseph Wu menambahkan, The New York Times melaporkan pada bulan Desember tahun lalu yang mengutip pejabat keamanan nasional AS yang mengatakan bahwa RRT mungkin menggunakan kecerdasan buatan untuk menyebarkan informasi palsu guna memengaruhi pemilu di negara-negara demokratis. Taiwan berada di garis depan dalam menentang ekspansi otoritarianisme RRT.
Joseph Wu juga dengan tulus mengapresiasi kubu pro-demokrasi dalam pertemuan G7, UE dan KTT AS-Jepang-Korea Camp David menyuarakan dukungan Taiwan di kancah internasional serta mengimbau komunitas internasional lebih serius menyoroti niat RRT melalui pengaruh dan perang hibrida bermaksud meruntuhkan demokrasi Taiwan.