History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

(Pemilu 2024) Penyampaian Visi dan Misi Tiga Kandidat Presiden Perihal Isu Lintas Selat.

  • 21 December, 2023
  • 鄭蕙玲
(Pemilu 2024) Penyampaian Visi dan Misi Tiga Kandidat Presiden Perihal Isu Lintas Selat.
penyampaian visi-misi kandidat presiden berlangsung pada Rabu 20 Desember 2023 (foto: Komisi Pemilihan Umum)

(Taiwan, ROC) --- Penyampaian visi dan misi dari tiga kandidat presiden ditayangkan secara perdana pada Rabu malam kemarin (20/12).

Saat menyinggung isu lintas selat, kandidat presiden dari Partai Progresif Demokratik (DPP), Lai Ching-te (賴清德), menegaskan komitmennya terhadap sistem konstitusional demokrasi yang bebas.

Dia menyatakan bahwa Republik Tiongkok dan Republik Rakyat Tiongkok adalah dua entitas yang saling independen dan tidak tunduk satu sama lain.

Dia berjanji untuk menyatukan rakyat Taiwan dan mengikuti jalur yang dipercayai oleh Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文), yaitu mempertahankan Taiwan dan menjauhkannya dari ancaman yang merugikan negara.

Selain itu, Lai Ching-te kemudian mengkritik kandidat presiden dari Partai Kuomintang (KMT), Hou You-yi (侯友宜), dan kandidat presiden dari Partai Taiwan People’s Party (TPP), Ko Wen-je (柯文哲), atas kebijakan lintas selat mereka, yang tidak akan mampu melindungi eksistensi negara.

Sebagai tanggapan, Hou You-yi kemudian meminta Lai Ching-te untuk tidak "memasang label merah" atas nama orang lain, dikarenakan pemilu kian dekat.

Di lain pihak, Ko Wen-je menekankan pandangannya tentang "kemandirian Taiwan dan perdamaian lintas selat."

Penyampaian visi dan misi dari tiga kandidat presiden diselenggarakan oleh Central Election Commission (CEC) pada Rabu malam kemarin (21/12). Ketiga kandidat menyampaikan gagasan penting mereka perihal isu lintas selat.

Lai Ching-te dari DPP menegaskan pentingnya kedaulatan dalam mempertahankan sebuah negara. Ia menyatakan bahwa Republik Tiongkok ada karena terdapatnya Taiwan. Dia berkomitmen untuk terus mendukung sistem konstitusional demokrasi yang bebas dan menegaskan bahwa kedaulatan Taiwan tidak bisa diinvasi atau dianeksasi.

Menurut Lai Ching-te, masa depan Republik Tiongkok (Taiwan) hanya bisa ditentukan oleh 23,5 juta orang Taiwan. Ia berencana untuk menyatukan rakyat Taiwan dan memperkuat eksistensi Taiwan di panggung dunia, dengan mengikuti jejak Presiden Tsai Ing-wen.

Lai Ching-te kemudian mengkritik Hou You-yi dari KMT, yang mengklaim ingin melindungi Republik Tiongkok, tetapi di lain pihak menerima Konsensus 1992.

Lai Ching-te menanyakan bagaimana Hou You-yi bisa menggunakan prinsip "satu Tiongkok" dari konsensus 1992 untuk melindungi Republik Tiongkok, mengingat Presiden Tiongkok, Xi Jin-ping (習近平) dalam Kongres Partai Komunis Tiongkok ke-20 tahun lalu menekankan konsensus 1992 sebagai prinsip "Satu Tiongkok, Dua Sistem", atau dengan kata lain tidak ada ruang bagi Republik Tiongkok.

Lai Ching-te juga mengkritik kandidat presiden dari Partai TPP, Ko Wen-je, atas pandangannya tentang "satu keluarga di kedua sisi selat", dan sikapnya terhadap prinsip "Satu Tiongkok".

Lai Ching-te mempertanyakan bagaimana Ko Wen-je bisa mengikuti jalur kebijakan luar negeri Tsai Ing-wen sambil menerima prinsip "Satu Tiongkok"?

Baru-baru ini, Ko Wen-je mengkritik kandidat pasangan KMT, Hou You-yi dan Chao Shao-kang (趙少康), menyebut mereka terlalu cenderung ke Tiongkok.

Menurut Lai Ching-te, baik KMT maupun TPP, keduanya tidak mampu melindungi eksistensi negara.

Lai Ching-te mengatakan, "Apakah 23,5 juta nyawa berharga ini benar-benar bisa dipercayakan pada niat baik Tiongkok? Walikota Hou You-yi dan Ketua Ko Wen-je, kita semua mengejar perdamaian, tetapi yang membedakan adalah bahwa Anda berdua menuju ke perdamaian palsu yang berujung pada penyatuan, sedangkan saya berjuang untuk perdamaian nyata yang mempertahankan status quo."

Lai Ching-te menekankan bahwa ia bersedia membuka pintu untuk dialog dan kerja sama dengan Tiongkok, berdasarkan prinsip kesetaraan dan saling menghormati, guna meningkatkan kesejahteraan rakyat di kedua sisi selat, serta mencapai kemakmuran bersama.

Selanjutnya, Hou You-yi menyatakan bahwa "Gunung Pelindung" bagi kedua sisi selat adalah Konstitusi Republik Tiongkok, termasuk konsensus 1992, yang semuanya berada di bawah payung Konstitusi Republik Tiongkok.

Hou You-yi dengan tegas menentang "Satu Negara, Dua Sistem" serta Taiwan berdaulat. Ia juga meminta Lai Ching-te untuk tidak "memasang label merah" terhadap dirinya.

Hou You-yi menegaskan bahwa ia telah menggunakan hidupnya untuk melindungi Taiwan dan telah membuktikan kemampuannya untuk menjaga Taiwan dengan tindakan, bukan hanya dengan kata-kata.

Hou You-yi mengatakan, "Saya menentang Satu Negara, Dua Sistem, dan juga menentang Taiwan berdaulat. Saya berkomitmen pada demokrasi dan kebebasan Taiwan. Saya menggunakan berbagai langkah untuk mencegah, berupaya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kita sebelum melakukan dialog. Saya telah mengatakannya dengan jelas, jangan sembarangan "memasang label merah" terhadap saya."

Ko Wen-je menekankan, sambil me mpertahankan sistem politik dan gaya hidup demokratis saat ini, ia bersedia memulai pertukaran dengan Tiongkok, yang berasaskan prinsip kesetaraan dan saling menghormati.

Dia juga merujuk pada pengalaman saat mengadakan Forum Kota Kembar dan Universiade, menyampaikan bahwa ia ingin berinteraksi dengan Tiongkok berdasarkan prinsip "Lima Saling".

Ko Wen-je mengatakan, "Saling mengenal, saling mengerti, saling menghormati, saling bekerja sama, dan yang terakhir, saling memahami. Kita semua tahu bahwa masing-masing memiliki kesulitannya sendiri, jadi apakah kita bisa, dalam situasi saling memahami, menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak."

Ko Wen-je kemudian menyatakan bahwa kebebasan Taiwan dan perdamaian di kedua sisi selat adalah sikap dasarnya terhadap hubungan lintas selat. Selain itu, Taiwan harus memiliki kekuatan pertahanan yang cukup, dengan anggaran pertahanan mencapai 3% dari PDB.

Komentar

Terbarumore