History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Wawancara TV Thailand, Menlu Taiwan: Akan Bekerja Keras untuk Mencegah Terjadinya Perang

  • 08 November, 2023
  • 尤繼富
Wawancara TV Thailand, Menlu Taiwan: Akan Bekerja Keras untuk Mencegah Terjadinya Perang
Wawancara TV Thailand, Menlu Taiwan: Akan Bekerja Keras untuk Mencegah Terjadinya Perang

(Taiwan, ROC) --- Menteri Luar Negeri (MOFA), Joseph Wu (吳釗燮) baru-baru ini hadir dalam wawancara eksklusif dengan media televisi Thailand menyampaikan bahwa dalam menghadapi provokasi Tiongkok, Taiwan tetap berupaya untuk menghindari menjadi pihak yang memicu konflik. Taiwan akan berusaha keras untuk mencegah perang terjadi.

MOFA menuturkan, bahwa pada tanggal 1 November 2023, Menteri Joseph Wu menerima wawancara dengan stasiun "Thai PBS". Wawancara dengan Menlu Joseph Wu disiarkan pada Jumat malam pekan lalu, dengan judul "Menteri Luar Negeri Taiwan Menilai Tren Perkembangan Tiongkok untuk Unifikasi Militer Taiwan".

Isi lengkap dari wawancara bersangkutan juga telah diunggah di saluran YouTube milik Thai PBS. Thai PBS adalah lembaga penyiaran publik pertama di Thailand yang didirikan pada tahun 2008.

Dalam wawancara, Menlu Joseph Wu menyatakan bahwa Tiongkok berusaha untuk memaksa Taiwan tunduk dengan berbagai cara, termasuk tekanan militer, ancaman ekonomi, dan isolasi internasional. Ini adalah salah satu bentuk strategi untuk menaklukkan tanpa harus berperang.

Menghadapi provokasi dari Tiongkok, Taiwan akan selalu memainkan peran bertanggung jawab, serta menghindari menjadi pemicu konflik, dan bersedia melakukan dialog lintas selat berdasarkan prinsip kesetaraan.

Menlu Joseph Wu menambahkan, seperti yang dikatakan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) dalam pidato Hari Nasional tahun ini, bahwa perdamaian adalah satu-satunya pilihan untuk hubungan lintas selat, dan Taiwan akan berusaha keras untuk mencegah perang terjadi.

Menteri Joseph Wu melanjutkan, bahwa Tiongkok tidak pernah menyembunyikan ambisinya terhadap Taiwan. Pada tanggal 2 Januari 2019, Pemimpin Tiongkok, Xi Jin-ping (習近平) menuntut Taiwan untuk menerima model unifikasi "satu negara, dua sistem" di bawah "Kebijakan Satu Tiongkok", dengan tujuan untuk menjadikan Taiwan seperti Hong Kong kedua.

Menlu Joseph Wu menambahkan, bahwa rakyat Taiwan tidak akan melepaskan gaya hidup demokrasi dan kebebasan, serta menolak untuk mengulangi situasi Hong Kong.

Rakyat Taiwan juga percaya bahwa mempertahankan Taiwan adalah tanggung jawab kami sendiri. Selain meningkatkan anggaran pertahanan, membeli senjata pertahanan, dan mendorong reformasi militer, pemerintah juga terus memperkuat pelatihan personel, meningkatkan strategi asimetris, dan berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan pertahanan mandiri.

Ketika ditanya perihal situasi perpolitikan dan ekonomi internasional, Menlu Joseph Wu menyampaikan bahwa otoritas Taiwan telah mengeluarkan keprihatinan kerasnya terhadap invasi Rusia ke Ukraina dan memberlakukan sanksi kepada Moskow.

Di lain pihak, Taiwan juga aktif memberikan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina.

Taiwan telah memperoleh pengalaman berharga dari konflik Rusia-Ukraina, termasuk keberanian rakyat Ukraina dalam mempertahankan kebebasan dan kedaulatan mereka, serta strategi asimetris Ukraina dan pentingnya dukungan komunitas internasional.

Oleh karena itu, Taiwan akan terus berupaya aktif untuk mendapatkan dukungan dari komunitas internasional, sekaligus memperdalam hubungan dengan negara-negara demokrasi seperti Amerika Serikat, Eropa, Kanada, Australia, dan Jepang.

Menlu Joseph Wu melanjutkan bahwa 50% pengiriman logistik dunia akan melewati Selat Taiwan dan 90% chip semikonduktor termutakhir diproduksi di Taiwan. Hal ini memperlihatkan, jika terjadi perang di Selat Taiwan, maka hal itu akan menyebabkan gangguan pada rantai pasokan global dan akan berdampak besar terhadap ekonomi masyarakat internasional.

Menteri Luar Negeri tersebut melanjutkan, komunitas internasional telah menyadari dampak besar yang mungkin terjadi jika Tiongkok melancarkan ancaman militer mereka terhadap Taiwan.

Dunia global juga telah secara terbuka mendukung Taiwan, dengan jelas menyatakan penolakan mereka terhadap upaya Tiongkok untuk secara sepihak mengubah status quo.

Ini menegaskan kembali bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan sangat berkaitan erat dengan keamanan dan kemakmuran internasional.

Komentar

Terbarumore