History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Pekerja Migran Indonesia Meninggal akibat Penyakit Hansen setelah 2 Bulan Berjuang

  • 28 October, 2023
  • 李珮菁
Pekerja Migran Indonesia Meninggal akibat Penyakit Hansen setelah 2 Bulan Berjuang
Keterangan PMI meninggal akibat penyakit Hansen dari pihak rumah sakit (foto: RS Tri-Service General)

(Taiwan, ROC) -- Seorang pekerja migran asing di Taiwan asal Indonesia (PMI) yang berusia 32 tahun sebelumnya telah bekerja di Taiwan selama 6 tahun. Selama waktu tersebut, ia belum pernah mudik ke kampung halaman. Suatu ketika, ia merasakan bahwa persendiannya mulai sakit, bahkan memburuk dengan cepat. Tangan dan kakinya dari berwarna keunguan kemudian menghitam dan kulitnya menjadi nekrosis (cedera dan kematian pada sel). Setelah bagian sel kulit diambil, barulah diketahui bahwa ia menderita penyakit Hansen (lepra atau kusta). Namun, PMI tersebut meninggal karena komplikasi setelah hampir 2 bulan menjalani pengobatan penyelamatan.

PMI tersebut merupakan kasus khusus dari fenomena Lucio yang disebabkan oleh penyakit Hansen dan ia dirawat oleh dr. Wang Yung-chih (王永志), Kepala Departemen Penyakit Menular di Rumah Sakit Tri-Service General. Pada tanggal 25 Oktober, dr. Wang Yung-chih menyampaikan bahwa kasus tersebut sudah mulai menderita nyeri sendi tidak tetap sebelum diagnosis. Dia mencari perawatan medis kemana-mana tetapi tidak dapat menemukan penyebabnya. Ia pun telah berjuang dengan "penyakit aneh" selama hampir 10 bulan, hingga muncul bercak ungu di kulit anggota tubuhnya dan menjalani rawat inap. Setelah 1 minggu perawatan, kondisinya tidak membaik, bahkan memburuk. Ketika dirujuk ke RS Tri-Service General, pasien telah berada dalam kondisi kritis dan kulitnya menunjukkan tanda-tanda nekrosis (kematian sel).

Dr. Wang menyampaikan, menghadapi gejala yang terus memburuk dengan cepat, tim segera melakukan perawatan pengobatan. Tidak hanya pencangkokan kulit, tetapi juga amputasi jari-jari yang nekrotik dilakukan untuk mencegah septikemia (keracunan darah) yang dapat membunuh pasien. Di saat yang sama, setelah melakukan biopsi, sumber penyakitnya dicurigai merupakan penyakit Hansen. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Taiwan segera diberitahu dan diagnosis pastinya terkonfirmasi dalam waktu kurang 1 minggu.

Dr. Wang mengutarakan, bahwa penyakit Hansen di Taiwan sangat jarang ditemukan di Taiwan, tapi umum di Indonesia. Ketika ia menginformasikan kondisi tersebut pada pasien, PMI yang bekerja sebagai perawat ini pun mengetahui penyakit apa yang dimaksud. Memperhitungkan kondisi pasien yang tidak dapat lagi dipindahkan ke rumah sakit lainnya, tim pun mendapatkan obat melalui CDC dan bertukar pendapat dengan Panti Jompo Lesheng yang lebih berpengalaman. Setelah 2 bulan upaya pengobatan, pasien tersebut sayangnya meninggal dunia akibat komplikasi dan pendarahan hebat di saluran pencernaan.

Faktanya, tingkat kematian penyakit lepra tidaklah tinggi. Wang Yung-chih menjelaskan bahwa gejala parah yang terjadi pada pasien terkait dengan fenomena Lucio yang langka, di mana reaksi alerginya dapat menyebabkan vaskulitis (peradangan pembuluh darah) atau nekrotikans. Penyakit tersebut dapat dengan cepat menyebar dan mengancam dengan tingkat kematian mencapai 50%. Setelah mengecek beberapa dokumen di Taiwan, hingga saat ini diperkirakan hanya kurang dari 5 orang yang terkena fenomena Lucio, dan hanya ada sekitar ratusan kasus di seluruh dunia.

Penyakit Hansen atau kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dan utamanya menyerang saraf kulit tepi, kulit dan selaput lendir, sehingga menyebabkan berbagai gejala klinis. Penyakit ini sangat jarang terjadi di Taiwan, dengan sekitar 10 hingga 15 kasus setiap tahun, sebagian besar kasus berasal dari Asia Tenggara. Cara penularannya adalah kontak dekat dalam jangka waktu lama dengan penderita melalui saluran pernafasan. Angka penularannya tidak tinggi, tetapi masa inkubasinya 2 sampai 20 tahun.

Wang Yung-chih menyampaikan, bahwa selama 6 tahun berada di Taiwan, pasien tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga ibu lansia dari majikannya. Meskipun hari libur, perawat itu jarang keluar, sehingga kemungkinan menulari teman-teman para pekerja migran lain cukup rendah. Pasien diperkirakan terinfeksi penyakit ini ketika masih berada di Indonesia. Selain itu, pasien yang dirawat oleh perawat PMI ini juga tidak memperlihatkan gejala yang tidak biasa.

Wang Yung-chih memperingatkan publik yang memiliki sejarah panjang perjalanan atau sering melakukan kontak dengan imigran dari daerah endemis penyakit Hansen seperti Amerika Selatan, Afrika atau Asia Tenggara. Jika mengalami gejala yang tidak biasa pada kulit, jangan diabaikan terkait kemungkinan terjadinya penyakit langka, seperti penyakit Hansen atau penyakit lainnya. Anda diminta untuk segera melakukan pengecekan dan pengobatan di rumah sakit besar secepatnya.

Komentar

Terbarumore