(Taiwan, ROC) --- Ketegangan di Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, apakah AS siap menghadapi krisis di Selat Taiwan? Dengan konflik yang berlarut-larut antara Rusia dengan Ukraina serta bentrokan terbaru antara Israel dengan organisasi militan Palestina, Hamas, ada kekhawatiran perihal kemampuan AS untuk menangani krisis di Selat Taiwan.
Namun, pejabat tinggi Departemen Pertahanan AS, Jedidiah Royal, yang menjabat sebagai Principal Deputy Assistant Secretary of Defense for Indo-Pacific Security Affairs, menegaskan keyakinannya, bahwa Amerika Serikat siap untuk menghadapi setiap peristiwa tak terduga yang mungkin terjadi.
Konflik antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama lebih dari satu setengah tahun. Sementara itu, bentrokan serius juga telah pecah antara Israel dengan Hamas.
Menanggapi kondisi internasional saat ini, muncul sebuah pertanyaan, apakah AS memiliki kapasitas untuk merespons tiga situasi tersebut secara bersamaan, terutama jika terjadi eskalasi di Selat Taiwan.
Dalam pidatonya di forum tahunan Global Taiwan Institute (GTI) di Washington DC, Jedidiah Royal menyatakan bahwa AS setiap hari membuat keputusan, merencanakan sumber daya, kemampuan, dan kekuatan untuk memastikan bahwa mereka siap terhadap berbagai kejadian tidak terduga.
Mengacu pada kapasitas militer dan manajemen sumber daya, Jedidiah Royal menyatakan keyakinannya bahwa AS sangat siap untuk menghadapi setiap insiden mendadak yang mungkin terjadi.
Mengingat usaha dan energi yang diinvestasikan oleh AS, dia percaya bahwa jika Amerika Serikat terlibat, maka kemenangan akan berada di pihak mereka.
Selama pidatonya, Jedidiah Royal menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Pasifik, terutama saat mengamati situasi di Ukraina dan Israel.
Departemen Pertahanan AS tetap berkomitmen untuk mendukung Taiwan, sambil memperkuat aliansi dan hubungan kemitraan regional untuk mempromosikan keamanan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Ia menegaskan bahwa meningkatkan kemampuan pertahanan diri Taiwan tetap menjadi prioritas kunci pemerintah AS, terutama sebagai respons terhadap tekanan ekonomi, diplomatik, dan militer yang dilancarkan oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terhadap Taiwan.
Mengakhiri pidatonya, Royal mengulangi pandangan Departemen Pertahanan AS yang beranggapan bahwa konflik bukanlah hal yang harus terjadi atau tidak terhindarkan. Namun demikian, ancaman saat ini sangat nyata dan signifikan.
AS akan aktif mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kemampuan pertahanan, dengan tujuan agar Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, setiap harinya berpikir bahwa hari ini bukanlah hari yang tepat untuk menyerang Taiwan.
Menyikapi pemilu di Taiwan pada tahun 2024 mendatang, Jedidiah Royal menekankan bahwa tidak peduli hasilnya, Amerika Serikat akan terus mendukung penguatan kemampuan pertahanan Taiwan.
Sehubungan dengan pemilu di Taiwan, Direktur American Institute in Taiwan (AIT), Laura Rosenberger, menyatakan kepercayaannya pada proses demokrasi dan pemilihan yang bebas dan adil di Taiwan.
Amerika Serikat tidak akan memihak dalam pemilihan umum di Taiwan dan berharap dapat bekerja sama dengan pemimpin yang nantinya akan dipilih oleh rakyat Taiwan.
Laura Rosenberger menegaskan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk berinteraksi dengan semua kandidat dengan bertolak pada prinsip yang adil dan setara. AS menentang campur tangan dari kekuatan eksternal dalam pemilihan Taiwan.
Laura Rosenberger menyampaikan, bepergian ke wilayah-wilayah di Taiwan adalah salah satu bagian favoritnya sejak menjabat sebagai Direktur AIT, terutama dengan kuliner lezatnya.