(Taiwan, ROC) Kementerian Pertahanan pada hari Rabu ini (11/10) menyampaikan, RRT berlanjut mengekspansi pengaruh ekonomi politik, mempersiapkan militer dengan berkedok kerja sama ekonomi perdagangan untuk menggantikan posisi kepemimpinan negeri Paman Sam, saat bersamaan membina hubungan kemitraan strategis dengan Kepulauan Solomon, berniat membangun pangkalan militer di lokasi ini, bertujuan menerobos cakupan perluasan kekuatan militer ke rangkaian pulau kedua.
Menhan Chiu Kuo-cheng (邱國正) besok (12/10) akan memberikan laporan pada sidang komite pertahanan dan diplomasi Yuan Legislatif untuk diinterpelasi, laporan tertulis telah disampaikan kepada Yuan Legislatif.
Laporan tertulis yang disampaikan oleh Kemenhan, situasi lingkungan strategis global semakin kritis, pengaruh dari perang Rusia-Ukraina dan persaingan AS-RRT masih berlanjut, AS memimpin aliansi demokrasi kubu barat dan berbagai negara kawaan Indo Pasifik secara bertahap memperluas kerja sama militer, dan menghimpun kekuatan dengan cara mengintegrasikan berbagai sektor seperti ekonomi, teknologi dan diplomasi untuk melawan negara otoriter RRT dan Rusia yang menentang tatanan internasional.
Kemenhan mengangkat, beberapa tahun terakhir ini RRT terus mengekspansi pengaruh ekonomi politik, mengintegrasikan prakarsa “One Belt One Road (OBOR), mempersiapkan militer yang berkedok kerja sama ekonomi perdagangan untuk melengserkan kepemimpinan AS. RRT membina hubungan kemitraan strategis dengan Kepulauan Solomon, berniat membangun pangkalan militer di lokasi ini, bertujuan menerobos cakupan perluasan kekuatan militer ke rangkaian pulau kedua. Selain itu, RRT agresif memperebutkan kedaulatan atas Laut Tiongkok Selatan dengan menjalankan pelatihan militer secara regular, zona abu-abu pelatihan militer laut menganggu dan mengintervensi kebebasan navigasi.
Kemenham mengatakan, posisi geostrategi Taiwan sangat penting, RRT kerap kali menjalankan latihan militer zona abu-abu yang menjadi ancaman bagi Taiwan, dilengkapi dengan perang kognitif, selain menguras kekuatan perang Taiwan, juga berniat menggoyahkan moral masyarakat Taiwan, masih meningkatkan kendali zona udara dan laut di sekitar Taiwan, saat bersamaan situasi Laut Taiwan mendapat sorotan dari dunia internasional, maka Taiwan aktif memperkuat pertukaran dengan negara-negara yang memiliki pandangan serupa untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Kemenhan menekankan, memperkuat efektivitas komando dan komunikasi militer, karena perang saat ini mengandalkan teknologi canggih. RRT bermaksud memperkuat militer dengan menghimpun pasukan penanggulangan ruang angkasa, internet dan elektronik, bertujuan memenangkan setiap lingkup tempur sehingga ini menjadi tantangan semakin berat bagi Kemenhan.
Oleh karena itu, berdasarkan kemampuan dasar pengintaian, pengawasan dan kekuatan intelegensi dari militer yang ada saat ini, dibangun gambaran operasional umum di sekitar selat Taiwan, guna menjamin informasi intelijen secara real-time, dan menggabungkan sistem komando dan kendali digital dengan berbagai sarana komunikasi seperti komunikasi kabel, serat optik nirkabel, dan satelit, agar operasi perang dari 3 angkatan bersenjata dapat berjalan dengan efektif.
Mengenai kemajuan alutsista Kemenhan, selain pesawat terbang nasional, masih ada kapal laut dan kapal selam produksi nasional. Kemenhan mengatakan, mengingat drone (kapal tak berawak) sangat diperlukan dalam medan perang Rusia Ukraina, maka pihaknya tengah meninjau drone khusus militer dan komersial yang dikuasakan kepada National Chungshan Institute of Science and Technology (NCIST) dan produsen untuk mempelajari dan memproduksi, hingga tahun 2024 akan memproduksi drone militer.
Selain itu, counter drone sistem yang dikembangkan oleh institusi swasta, diprakirakan tahun 2024 – 2025 akan memproduksi sebanyak 20 set, saat bersamaan mendukung rantai pasokan untuk produksi drone dan counter drone sistem untuk memperlaju pengintaian, intelejensi dan kekuatan tempur serangan balik.