History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Wawancara Bloomberg, Ko Wen-je: Mempertahankan Status Quo adalah Konsensus Terbesar Taiwan

  • 14 September, 2023
  • 鄭蕙玲
Wawancara Bloomberg, Ko Wen-je: Mempertahankan Status Quo adalah Konsensus Terbesar Taiwan
Ko Wen-je diwawancara Bloomberg (foto: Bloomberg Television Youtube)

(Taiwan, ROC) – Menyusul wawancara eksklusif dari kandidat calon presiden dari Partai Progresif Demokratik (DPP) William Lai (賴清德), kandidat calon presiden dari Partai Taiwan People’s Party (TPP) Ko Wen-je (柯文哲) juga diwawancara dengan spesifikasi yang sama dalam laporan berita yang tersiar hari ini (14/9). Terkait dengan hubungan antar selat, Ko Wen-je menekankan bahwa mempertahankan status quo seperti saat ini merupakan satu-satunya pilihan dan merupakan konsensus terbesar Taiwan. Adapun cara untuk menyelesaikan ketegangan di Selat Taiwan, Ko Wen-je mengusulkan 2 kunci, yaitu “deterensi” dan “komunikasi”.

Ko Wen-je, ketua sekaligus kandidat calon presiden dari TPP diwawancara oleh reporter Stephen Engle dari Bloomberg TV di Taipei pada 6 September lalu. Ko Wen-je menjawabnya dengan menggunakan bahasa Mandarin dan keduanya membahas situasi ketegangan antara Taipei dan Beijing, relasi dengan Amerika Serikat, serta industri chip Taiwan di masa depan.

Reporter bertanya terkait hubungan antar selat, apakah lebih memilih status quo (kemerdekaan faktual) atau lebih banyak kontak dengan Tiongkok daratan? Ko Wen-je menjawab bahwa dalam tahap ini, mempertahankan status quo merupakan satu-satunya pilihan karena Amerika Serikat (AS) tidak akan membiarkan Tiongkok Daratan dan Taiwan bersatu kembali, sementara Tiongkok (RRT) tidak akan membiarkan Taiwan merdeka.

(Jika terpilih) sebagai presiden, bagaimana Ko Wen-je akan menyelesaikan ketegangan dengan pihak Daratan Tiongkok? Ia menjawab, bahwa dalam situasi saat ini, ada 2 kata kunci untuk menangani hubungan antara Taiwan dan RRT, yaitu deterensi dan komunikasi. Ko menekankan, Taiwan pertama-tama membutuhkan kekuatan pertahanan negara yang cukup kuat. Masa depan sebuah negara tidak dapat sepenuhnya dipercayakan kepada negara lain. Taiwan juga harus bisa melindungi dirinya sendiri. Jika tidak memiliki perlindungan diri, maka tidak memenuhi syarat untuk duduk di meja perundingan.

Ko Wen-je menekankan, bahwa kita perlu memahami secara jelas bahwa kita tidak dapat bersaing dengan RRT secara militer, tapi kita juga perlu memberi tahu pihak RRT untuk dapat memahami bahwa menyerang Taiwan berarti akan membayar dengan harga mahal. Oleh karena itu, deterensi menjadi prinsip pertama. Prinsip lainnya adalah komunikasi. Komunikasi dapat mengurangi kesalahpahaman dan permusuhan kedua belah pihak, karena itu kita perlu mengurangi kemungkinan terjadinya konflik melalui komunikasi.

Komentar

Terbarumore