(Taiwan, ROC) – Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP) yang berbasis di Sydney, Australia, baru-baru ini merilis Indeks Perdamaian Global (Global Peace Index) terbaru mereka. Laporan tersebut memperkirakan, jikalau Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melakukan blokade terhadap Taiwan, maka nilai ekonomi global dapat mengalami kerugian sebesar US$ 2,7 triliun, dengan penurunan total produksi sebesar 2,8%. Angka tersebut hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh krisis keuangan pada tahun 2008.
Dalam Indeks Perdamaian Global 2023 yang dirilis oleh IEP menunjukkan, Taiwan berada di peringkat ke-33 dengan tingkat perdamaian yang “tinggi”.
Dalam laporan tersebut menyebutkan, Islandia tetap menjadi negara paling damai di dunia, diikuti oleh Denmark, Selandia Baru dan Austria. Peringkat ke-6 hingga 10 ditempati oleh Singapura, Portugal, Slovenia, Jepang dan Swiss.
Negeri Tirai bambu berada di peringkat ke-80 dengan tingkat perdamaian yang “sedang”. Sedangkan, Afganistan terus berada di peringkat terbawah sebagai negara yang paling tidak damai.
Indeks perdamaian global ini mencakup 163 negara dan wilayah, serta mengevaluasi aspek-aspek seperti keamanan dan ketertiban sosial, tingkat konlik internal dan eksternal, serta tingkat militerisasi dengan menggunakan berbagai indikator penilaian.
Laporan tersebut juga menunjukkan, rata-rata indeks perdamaian negara-negara di seluruh dunia mengalami penurunan sebesar 0,42% pada tahun ini (2023), invasi Rusia terhadap Ukraina dan segala konsekuensinya menjadi penyebab utama memburuknya perdamaian global. Ukraina dan Rusia menempati peringkat ke-157 dan 158 dalam indeks perdamaian global 2023.
Selain itu, laporan tersebut juga menganalisis kemungkinan konflik di kemudian hari, termasuk dampak yang mungkin ditimbulkan jika Negeri Panda memblokir Taiwan terhadap perekonomian global.
RRT beberapa tahun terakhir telah meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, menyebabkan situasi di Selat Taiwan kian memanas dan menarik perhatian internasional.
Laporan tersebut memperkirakan, apabila Pemerintah Beijing memblokir Taiwan, maka hal tersebut dapat menyebabkan kerugian pada nilai ekonomi global sebesar 2,7 triliun dolar AS, dengan penurunan total produksi sebesar 2,8%. Angka tersebut hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan kerugian yang disebabkan oleh krisis keuangan pada tahun 2008, serta dampaknya pada perdagangan komputer dan elektronik pun akan sangat besar.
Laporan tersebut juga menyatakan, hampir 60% dari kerugian aktivitas ekonomi akan terjadi di Negeri Tirai Bambu dan Taiwan. Ekonomi RRT diperkirakan akan menyusut sebesar 7%, sementara ekonomi Taiwan berpotensi mengalami penyusutan hampir 40%.
Kawasan lainnya juga akan turut mengalami kerugian nilai ekonomi. Laporan tersebut memprediksi, dampak yang paling nyata akan dirasakan di kawasan Asia Tenggara dan Oseania.