(Taiwan, ROC) – Dalam pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) tahun ini yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat, publik mengkhawatirkan apakah Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) dapat menghadiri acara tersebut secara langsung. Menanggapi hal ini, Kepala Kantor Perwakilan Taiwan di Amerika Serikat (AS) Hsiao Bi-khim (蕭美琴) pada 5 Juni mengatakan, diperlukan konsensus dari semua negara anggota dan saat ini Amerika Serikat mengambil posisi seperti kebiasaan sebelumnya.
Hsiao Bi-khim mengatakan, dia memahami harapan Taiwan terkait masalah ini. Namun, dalam konteks lingkungan strategis internasional saat ini, Taiwan memiliki tantangan tersendiri dalam mencapai persetujuan dari berbagai negara. Namun, Kantor Perwakilan Taiwan di AS akan terus berupaya dan berharap bahwa suara rakyat Taiwan akan didengar dan mendapat perlakuan yang adil.
Mengenai isu Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang menjadi perhatian masyarakat, Hsiao Bi-khim menyampaikan, setelah penandatanganan kesepakatan awal dalam Inisiatif Perdagangan Abad ke-21 Taiwan-AS, langkah selanjutnya adalah memulai negosiasi aktif untuk tahap berikutnya. Salah satu isu penting yang akan dibahas adalah P3B.
Hsiao Bi-khim menyebutkan, Menteri Keuangan AS Janet Yellen secara positif menyatakan komitmennya untuk memperhatikan isu ini dengan serius dalam sesi tanya jawab di kongres. Anggota parlemen dari Senat dan DPR AS juga telah menyatakan niat mereka untuk mengajukan undang-undang terkait. Perwakilan Taiwan sangat menghargai hal ini dan berharap dapat segera memulai dialog dengan pemerintah AS mengenai isu ini.
Belakangan ini, saat kapal perang AS dan Kanada melakukan operasi bersama melintasi Selat Taiwan, kapal perang Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melakukan provokasi dengan memotong jalur kapal perang AS secara sengaja. Hsiao Bi-khim menyampaikan, kebebasan berlayar internasional adalah prinsip penting dalam kerangka tatanan internasional yang ada saat ini. Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) telah secara terus-menerus merusak tatanan internasional, bukan hanya di Selat Taiwan, tetapi juga di Laut Tiongkok Selatan. Masyarakat internasional terus mempertahankan kebebasan berlayar internasional dan keamanan di sekitar Selat Taiwan.
Hsiao Bi-khim mengucapkan terima kasih kepada AS yang terus menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta pentingnya mempertahankan status quo Taiwan kepada sekutu dan mitra mereka. Dia juga melihat adanya resonansi dari negara-negara lain dalam mempertahankan tatanan internasional dan perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan, yang telah menjadi arus utama internasional.
Hsiao Bi-khim kembali mengimbau rezim Komunis RRT bahwa perang bukanlah pilihan. Perdamaian dan stabilitas akan menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam wilayah Indo-Pasifik. Mereka harus melindungi hasil ekonomi yang sulit diraih di wilayah ini, dan perdamaian, stabilitas, serta pemeliharaan tatanan internasional merupakan kunci penting.
Mengenai kunjungan kedua Ketua Institut Amerika di Taiwan (AIT) Laura Rosenberger ke Taiwan, Hsiao Bi-khim mengungkapkan, pihak AS selalu memperhatikan hubungan dengan Taiwan. Laura Rosenberger sangat antusias dan berharap dapat berperan aktif. Pihak eksekutif AS sangat mempercayai Laura Rosenberger dan pengalamannya sebelumnya juga membuatnya memiliki pemahaman yang komprehensif tentang hubungan keseluruhan antara Taiwan dan AS.
Hsiao Bi-khim menyebutkan, kunjungan Laura Rosenberger kali ini bertujuan untuk berinteraksi lebih lanjut dengan kandidat presiden dari berbagai kubu dan memahami pandangan mereka mengenai situasi saat ini.
Hsiao Bi-khim juga menyebutkan, AS selalu jelas menyatakan bahwa mereka tidak memihak salah satu kubu dalam proses pemilihan di Taiwan. Namun, mereka akan berinteraksi dengan berbagai kubu untuk memahami pandangan mereka tentang situasi saat ini. Ini juga merupakan fokus kunjungan Laura Rosenberger kali ini.