(Taiwan, ROC) – Menteri Luar Negeri Prancis, Catherine Colonna mengemukakan, partisipasi Taiwan dalam organisasi internasional akan membawa nilai tambah, lagipula Prancis telah setuju untuk mengizinkan Taiwan turut berpartisipasi dalam Konferensi Kesehatan Dunia mendatang. Namun mereka berpendapat jika kunjungan pejabat tingkat menteri ke Taiwan tidaklah tepat.
Catherine Colonna pada 17 Mei saat menghadiri dengar pendapat di Komite Luar Negeri, Dewan Pertahanan dan Militer, serta menjawab pertanyaan dari para senator mengenai isu Taiwan.
Terkait hubungan Prancis-Taiwan, dirinya mengatakan “hubungan kami dengan Taiwan sangat baik, telah berlangsung sejak lama dan terus berkembang dalam bidang ekonomi, budaya, dan parlemen, tetapi bukan hubungan diplomatik.”
Dalam sesi tanya jawab, Wakil Ketua Komite Luar Negeri Prancis Joel Guerriau menyatakan, banyak negara telah menyerukan agar T aiwan dapat bergabung sebagai pengamat dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Polisi Kriminalitas Internasional (INTERPOL) dan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Dirinya menunjukkan organisasi internasional memperbolehkan partisipasi dari entitas politik dan tidak harus diikutsertakan oleh negara-negara saja, guna menghindari konflik antar anggota negara.
Wakil Ketua Komite Senator Olivier Cadic dalam pidatonya menyatakan, salah satu prestasi yang pertama-tama disebutkan oleh Presiden Emmanuel Macron dalam Forum Bisnis Choos France adalah pendirian pabrik ProLogium Technology di Prancis, yang membawa nilai investasi sebesar 5,2 Euro (sekitar NT$ 175,8 miliar) dan menciptakan sebanyak 3.000 lapangan kerja.
Selanjutnya, Olivier Cadic mengucapkan terima kasih kepada Catherine Colonna atas penegasannya di Tokyo yang menggarisbawahi kebijakan Prancis yang tidak berubah dan jelas, yaitu mendukung perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, serta menentang perubahan status quo secara sepihak. Dirinya mengemukakan, Daratan Tiongkok telah menunjukkan niatnya untuk “menggabungkan Taiwan dengan militer” jika diperlukan, dan Negeri Tirai Bambu terus menunjukkan ambisi ekspansionisnya di wilayah Indo-Pasifik yang membuat situasi di wilayah tersebut menjadi sangat berbahaya sejak Perang Dunia II.