(Taiwan, ROC) --- Mantan Presiden Ma Ying-jeou (馬英九) diundang untuk menghadiri Delphi Economic Forum di Yunani. Namun, pihak panitia keliru menyematkan posisi Ma Ying-jeou, dengan tulisan “Mantan Presiden Taipei” di dalam situs resmi mereka.
Kekeliruan tersebut akhirnya mendatangkan protes dari pihak Kementerian Luar Negeri (MOFA). Posisi tersebut kemudian direvisi menjadi “Mantan Presiden Taiwan”. Namun, kesalahan kembali terjadi pada tanggal 25 April 2023. Kali ini, Ma Ying-jeou disebut sebagai “Mantan Pemimpin Taipei”.
Tindakan dari pihak panitia dianggap telah mengerdilkan posisi dan gelar Ma Ying-jeou. Menjawab hal tersebut, perwakilan Ma Ying-jeou menyampaikan pihaknya tidak akan membatalkan atensinya hanya dikarenakan pihak pemerintah tidak kompeten dalam memperjuangkan gelar resminya sebagai mantan Presiden ROC.
Saat ditemui hari ini (26/4), Perdana Menteri Chen Chien-jen (陳建仁) menyampaikan, sebagai mantan presiden, maka Ma Ying-jeou tentu menjadi representatif bagi martabat dan kedaulatan negara. Sangat tidak layak dan tidak sopan, jika pihak panitia salah menyebut gelar dari Ma Ying-jeou.
Chen Chien-jen menambahkan, ketika terdapat kesalahan dalam penamaan gelar atau posisi suatu kedudukan, maka individu terkait biasanya memilih untuk membatalkan atensi mereka.
PM Chen mengatakan, “Ma Ying-jeou adalah mantan Presiden ROC. Ia mewakili martabat dan kedaulatan negara. Undangan kali ini yang dilayangkan kepada dirinya, dengan menyematkan sebutan yang salah, maka dirasa sangat tidak layak dan tidak sopan. Tentu ini akan menjadi tantangan dan ujian besar bagi mantan Presiden Ma Ying-jeou. Saya rasa, ketika setiap orang menemukan adanya kesalahan penyebutan gelar atau posisi yang dilakukan oleh pihak penyelenggara, maka orang bersangkutan akan membatalkan atensinya.”
Saat ditemui hari ini di Yuan Legislatif, Kepala National Security Bureau (NSB), Tsai Ming-yen (蔡明彥) menuturkan, pihaknya tidak bisa memberikan komentar lebih, karena belum dilibatkan dalam praktik negosiasi. Namun, jika dilihat dari perspektif pemerintah, maka tentu diharapkan pihak Yunani bisa memberikan kejelasan mereka perihal penyematan gelar mantan Presiden Ma Ying-jeou dan mantan presiden Taiwan lainnya.
Di samping itu, mantan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, John Bolton, akan berkunjung ke Taiwan semenjak tanggal 26 April 2023. Pihak luar kini mencemaskan apakah John Bolton akan berdiri satu panggung bersama dengan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文), mengingat dirinya akan ikut dalam pencalonan presiden AS pada tahun 2024.
Menjawab pertanyaan di atas, PM Chen menyampaikan, dirinya tentu akan menyambut baik seluruh kedatangan dari pihak-pihak yang selaras dengan Taiwan. Pihak-pihak tersebut tentu akan memberikan masukan berharga bagi keamanan nasional Taiwan dan stabilitas regional .
PM Chen percaya bahwa unit terkait akan melaksanakan tugas mereka dengan sebaik mungkin, dalam menyusun rencana perjalanan John Bolton.
Selain itu, John Bolton juga pernah berpendapat bahwa Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan Taiwan sudah seharusnya membentuk “tim pertahanan kolektif”. Menanggapi pendapat tersebut, PM Chen menjawab, Dewan Keamanan Nasional dan Kementerian Pertahanan Nasional akan terus mengikuti perkembangan situasi yang ada, guna menghadapi ancaman atau tantangan yang dilancarkan pihak Tiongkok.
PM Chen melanjutkan, dirinya sangat antusias saat melihat ada banyak negara yang ternyata memiliki filosofi serupa dengan Taiwan. Beliau juga menyambut baik seluruh proyek kerja sama yang akan dihelat di sektor pertahanan Selat Taiwan, guna melindungi perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.