History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Latihan Militer AS-Filipina di Filipina Utara: Garis Depan Pertahanan Taiwan

  • 25 April, 2023
  • 鄭蕙玲
Latihan Militer AS-Filipina di Filipina Utara: Garis Depan Pertahanan Taiwan
Latihan Militer AS-Filipina di Filipina Utara: Garis Depan Pertahanan Taiwan (foto: CNA)

(Taiwan, ROC) --- Financial Times melaporkan, Amerika Serikat dan Filipina melakukan latihan militer gabungan akhir pekan lalu di pulau terpencil di utara Filipina. Jika Taiwan mengalami konflik di masa depan, pulau-pulau ini dapat menjadi garis depan untuk mempertahankan Taiwan.

Financial Times menyebutkan, tentara AS-Filipina berserta pesawat Osprey Tilt Rotor V-22 berpartisipasi dalam latihan militer gabungan tahunan Balikatan di Pulau Batan, sebuah pulau di Filipina utara yang terpencil pada 23 April. Pulau ini hanya berjarak 200 kilometer dari Taiwan. Sesaat sebelum tengah hari, empat pesawat Osprey Tilt Rotor V-22 melesat melewati deretan pegunungan.

Batan menjadi tuan rumah latihan militer gabungan Filipina-AS melawan invasi akhir pekan lalu. Ini merupakan bagian dari latihan militer gabungan terbesar di antara kedua sekutu selama lebih dari 30 tahun. Keduanya sedang memperkuat hubungan militer untuk menghadapi RRT yang semakin tangguh. Pulau Batan merupakan tempat yang terisolir.

Pulau Batan sudah lama terisolir dari dunia. Penduduk setempat melaut dengan perahu kayu kecil untuk menangkap ikan marlin biru dan tuna sirip kuning. Sementara itu, wisatawan berseliweran di kubah lava dan gereja tua bersejarah di Kota Basco.

Taiwan kini telah menjadi pusat pertikaian geopolitik antara RRT dan Amerika Serikat. Pulau Batan juga memiliki peran baru sebagai "zona penting" yang mungkin diperebutkan oleh kedua belah pihak jika terjadi perang. Taiwan dan Batan dipisahkan oleh Selat Bashi.

Untuk tujuan ini, ratusan marinir dan tentara di AS dan Filipina diterbangkan ke dataran tinggi berumput untuk mempraktikkan cara melindungi daerah ini dari calon penyusup.

Kapal perang amfibi Angkatan Darat AS memeriksa pantai setempat dari bawah laut untuk menurunkan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) untuk menangkal kapal musuh. Sistem ini juga yang memainkan peran penting dalam perang Ukraina.

Mayor Jenderal Joseph Ryan, Komandan Divisi Infanteri ke-25 Angkatan Darat AS, mengatakan, Filipina sebelumnya kurang bersedia menunjukkan niatnya untuk mempertahankan seluruh wilayahnya. "Tapi, ada lebih banyak alasan sekarang dan saya pikir ini semua disebabkan oleh sifat RRT yang licik dan berbahaya," katanya.

Ryan menambahkan, "Kami sedang memperluas jangkauan kami di pulau ini, dekat Laut Tiongkok Selatan, dan dekat Taiwan. Kami melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa kami bersedia membantu sekutu dan mitra kami. Ini seharusnya menjadi sinyal bagi RRT bahwa kami serius."

Saat ini ada sekitar 150.000 WN Filipina yang bekerja di Taiwan. Perhatian utama pemerintah Filipina adalah keselamatan warga negara Filipina yang tinggal dan bekerja di Taiwan, terutama mengingat potensi terjadinya konflik di Selat Taiwan. Bagi banyak penduduk di Pulau Batan, masalah Selat Taiwan berkaitan langsung dengan mereka.

Penduduk suku adat di Pulau Batan dan Suku Dawu di Pulau Lanyu, Taiwan memiliki nenek moyang yang sama. Kedua bahasa tersebut juga memiliki banyak kata yang sama. Pulau Lanyu terletak sekitar 100 kilometer di utara ujung paling utara Filipina.

Dale, seorang pemuda asal Pulau Batan, mengungkapkan: "Hubungan kami sangat erat. Pemerintah kami kadang-kadang mengatakan bahwa Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) merupakan dasar yang baik sehingga militer AS dapat membantu selama topan atau gempa bumi, tetapi menurut saya ini sebenarnya tentang RRT dan Taiwan.”

Komentar

Terbarumore