(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 18 April 2023, Kanselir Jerman, Olaf Scholz menyampaikan bahwa tidak ada perbedaan di dalam tubuh Uni Eropa saat berhadapan dengan kebijakan Tiongkok.
Saat ditemui di Berlin, Olaf Scholz menyampaikan, sama seperti Uni Eropa, maka Jerman akan mengikuti Kebijakan Satu Tiongkok. Ketika ditanya pendapatnya perihal Tiongkok yang akan tetap menggunakan militer mereka untuk mereunifikasi Taiwan, Olaf Scholz menjawab bahwa status quo yang ada saat ini tidak boleh diubah secara paksa.
Pada tanggal 18 April 2023, Olaf Scholz menghelat konferensi pers bersama dengan Presiden Swiss, Alain Berset, yang saat ini tengah berkunjung ke Berlin.
Menurut situs resmi dari pemerintah Jerman, saat konferensi berlangsung, seorang wartawan bertanya kepada Olaf Scholz apakah dirinya khawatir jika Uni Eropa akan terseret ke dalam celah konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, saat harus berhadapan dengan isu Taiwan.
Kemudian wartawan bersangkutan kembali melontarkan pertanyaannya, apakah Jerman harus bertindak seperti AS, yakni memperingatkan Tiongkok untuk jangan menggunakan militer mereka dalam melancarkan ancaman kepada Taiwan.
Olaf Scholz mengatakan, “Seluruh pihak mengetahui bahwa Jerman dengan Tiongkok memiliki strategi pertukaran yang jelas. Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock baru saja mengunjungi Tiongkok, ia juga kembali mengulangi perkataan yang pernah saya lontarkan ke hadapan Pemimpin Xi Jin-ping beberapa waktu lalu. Kami akan mengikuti Kebijakan Satu Tiongkok, dan pada saat yang sama kami tidak akan membiarkan status quo ini dirusak dengan kekerasan. Ini adalah kesepakatan Uni Eropa dan Prancis. Presiden Prancis juga sudah mengutarakannya dengan sangat gamblang, dalam berbagai kesempatan. Saya rasa, kami sangat selaras ketika dihadapkan dengan kebijakan Eropa dan Tiongkok, dan kami juga konsisten dengan AS. Dalam berbagai kesempatan, kami juga sudah menyatakan hal serupa, yakni kami akan terus menggelar kerja sama lebih lanjut.”
Baru-baru ini, Presiden Prancis juga menyatakan, mereka tetap menjadi sekutu Amerika Serikat, dan tidak berarti akan menjadi “pengikut”. Prancis di lain pihak tetap akan mempertahankan status quo di Selat Taiwan.