(Taiwan, ROC) --- RRT meluncurkan latihan militer mengelilingi Taiwan selama tiga hari karena tidak puas dengan pertemuan Tsai - McCharty. RRT mengumumkan akan meluncurkan “penyelidikan hambatan perdagangan” terhadap Taiwan pada 12 April, terutama mencakup 2.455 produk, seperti produk pertanian dan tekstil. Penyelidikan akan diperpanjang hingga 12 Januari 2024, yaitu sehari sebelum pemilihan presiden tahun depan.
Ketika ditanya apa pendapatnya mengenai Wakil Presiden Taiwan Lai Ching-te (賴清德) selaku ketua Partai Progresif Demokrat Taiwan (DPP) dicalonkan oleh DPP sebagai kandidat dalam pemilu presiden 2024, Juru Bicara Yuan Eksekutif Lo Ping-cheng (羅秉成) mengatakan hari ini (13/4) bahwa hubungan perdagangan lintas selat memiliki mekanisme dan peraturan hukum terkait yang sudah ada sejak lama. RRT tidak perlu melancarkan operasi politik yang berlebihan karena itu tidak bermanfaat untuk pertukaran lintas selat.
Lo Ping-cheng mengatakan, “RRT tidak selayaknya memperumit masalah perdagangan, memperalat, atau bahkan mempolitisasinya, dan mencampuri pertukaran perdagangan regional lintas selat. Hal ini tidak bermanfaat untuk pertukaran lintas selat. Jika ada masalah terkait, maka harus dirundingkan dan didiskusikan melalui mekanisme terkait. Kita dapat duduk dan membicarakannya, tidak perlu melakukan sesuatu yang berlebihan bahkan mempolitisasinya. Ini tidak akan membantu pertukaran lintas selat.”
Pada sidang komite ekonomi Yuan Legislatif, Menteri Ekonomi Wang Mei-hua (王美花) hari kamis ini (13/4) mengatakan, lintas selat telah menetapkan "Peraturan Perizinan Perdagangan antara Wilayah Taiwan dan Wilayah RRT" sejak tahun 1993. Selama periode ini, 9.835 item produk pertanian dan industri dari RRT diizinkan untuk diimpor. Kemudian, setelah kedua pihak bergabung dengan WTO, tidak ada perundingan tentang produk terkait, sehingga produk yang diizinkan tetap berlanjut hingga kini.
Menanggapi pengajuan penyelidikan mendadak oleh RRT, Kementerian Ekonomi segera menanggapi, RRT tidak selayaknya memperumit dan memperalat masalah perdagangan untuk mengganggu pembangunan ekonomi global. Kondisi serta struktur ekonomi kedua sisi selat itu berbeda. Jika perlu, Taiwan bersedia untuk bernegosiasi dan membahas masalah perdagangan dengan pihak lain "tanpa prasyarat". Namun, sikap “tanpa prasyarat” ini justru menimbulkan keraguan masyarakat karena menunjukkan kelemahan dari Kementerian Ekonomi.
Wang Mei-hua menjelaskan lebih lanjut, "tanpa prasyarat" sebenarnya berarti bahwa Taiwan adalah satu subjek dan anggota WTO samahalnya dengan RRT . Atas dasar inilah yang dijadikan sebagai premis untuk berkonsultasi dengan RRT.
Lo Ping-cheng menekankan, pertukaran ekonomi dan perdagangan lintas selat harus normal dan teratur. Interaksi ekonomi dan perdagangan antara kedua belah pihak juga saling menguntungkan dan saling melengkapi, apalagi Taiwan memainkan peran kunci dalam rantai pasokan dunia. Semua orang bisa duduk dan mendiskusikan masalah terkait. Mengenai tindakan RRT terhadap Taiwan, kementerian dan komite terkait akan menanggapinya dengan baik.