(Taiwan, ROC) Setelah RRT menjalani latihan militer mengelilingi pulau Taiwan, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock melakukan kunjungan ke Beijing untuk pertama kalinya, dalam kesempatan kunjungan kali ini Beliau akan mengangkat isu situasi selat Taiwan, serta menyampaikan Eropa menentang perubahan status quo selat Taiwan secara sepihak.
Kunjungan Menlu Jerman Annalena Baerbock ke RRT pada tanggal 13-15 April, singgah ke Tianjin dan Beijing, salah satu sumber menyebutkan perjalanan Annalena Baerbock kali ini akan difokuskan pada pembahasan hubungan Jerman-RRT, situasi Laut Taiwan, invasi Rusia terhadap Ukraina, situasi HAM RRT dan ancaman pemanasan global.
Menlu Anna Baerbock menyampaikan, saat bersamaan Eropa menempatkan RRT sebagai mitra, pesaing dan lawan institusional, di masa mendatang arah hubungan Eropa-RRT tergantung pada jalan pilihan RRT.
Menlu Anna Baerbock menambahkan, RRT merupakan mitra dagang terbesar Jerman, akan tetapi RRT membentuk tatanan internasional sendiri, bagaimana untuk mencari keseimbangan antara kedua hal ini agar pembinaan hubungan kedua belah pihak tetap terjalin. Ia menekankan, RRT sudah berbeda dari sebelumnya, maka Beliau berharap dengan kesempatan kunjungan ini dapat memahami jalur kepemimpinan baru, mengamati hubungan tegang terkait political control dan keterbukaan ekonomi.
Berkaitan dengan hubungan Eropa RRT, Menlu Anna Baerbock melanjutkan pidato terkait kebijakan RRT dari Ketua Komite Eksekutif Uni Eropa, Ursula von der Leyen dan mengungkap bahwa ekonomi sulit terlepas dari RRT, akan tetapi perlu mengurangi risiko kebergantungan terhadap satu pihak, yang disebut dengan De-Risking.
Menlu Anna Baerbock menekankan, kargo laut yang melintasi selat Taiwan mencapai 505 dari perdagangan dunia, sementara situasi tegang Taiwan semakin meningkat, saat bersamaan juga perlu mengurangi risiko ini.