(Taiwan, ROC) Asisten Direktur Urusan Keamanan Indo Pasifik Kementerian Pertahanan Ely Ratner mengatakan AS akan berlanjut memperkuat kemampuan menghalau RRT, agar pihak Beijing tidak dapat menerima kenyataan atas pengorbanan besar dari agresinya. Meskipun aksi menghalau invasi RRT terhadap Taiwan sebelum pada 2030 tidak gampang, tapi diyakini kondisi ini mampu direalisasikan.
Ely Ratner menghadiri forum pembahasan keamanan kawasan Indo Pasifik yang digelar oleh Hudson Institute. Ketika membahas mengenai Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) ia menyampaikan, PLA kian hari kian menguat, termasuk semakin bersedia menanggung risiko, bersedia untuk mengadopsi metode perangkat kekuasaan yang belum ditemui, aksi militer riskan semakin kerap dijalankan, aksi militer yang dilakukan tidak monoton, ada metode lainnya, beberapa aksi militer tersebut dinilai berisiko dan tidak stabil.
Pesawat Boeing p-8 Poseidon milik Militer AS juga dilengkapi dengan reporter pada tanggal 24 Februari berpatroli di Laut Tiongkok Selatan mendapati pesawat tempur RRT yang terbang meninggalkan kawasan. Pihak pejabat AS mengatakan, kondisi seperti ini sudah sering ditemui oleh kapal militer AS, tindakan militer seperti ini berisiko mempertinggi situasi tegang.
Ely Ratner mengatakan, meskipun provokasi militer RRT kian hari kian panas, pihaknya optimis terhadap posisi AS pada kawasan ini, dan kemitraan dengan negara sahabat yang semakin mendalam, saling bekerja sama dan telah berkontribusi untuk menjaga keamanan kawasan regional dan menciptakan lingkungan yang stabil dan aman secara berkesinambungan. Ia mengemukakan, sasaran pencapaian AS adalah semua orang, sekutu dan mitra saling bekerja sama berupaya sekuat tenaga menjaga agar ancaman dan agresi ini tidak berhasil.
Dari sisi ancaman, Ely Ratner mengutip pernyataan dari Wakil Menteri Pertahanan Kathleen Hicks bahwa, “berharap tiba saatnya Pimpinan Beijing sadar, menyadari serangan bukan pada hari ini.” Aksi menghalau RRT yang dihimpun AS semakin kuat, dan akan terus dilakukan.
Ely Ratner mengatakan, aksi provokasi yang besar, kekuatan militer RRT kian bertambah dan ambisius, akan tetapi aksi menghalau dari militer AS juga tengah menguat, memastikan pihak RRT tidak bisa menerima pengorbanan besar dari agresinya. Pihak AS bersama sekutu dan mitra terus berupaya melalui pengembangan kemampuan diri, penyesuaian dan konsep strategi perang baru, diyakini “pasti mampu (doable), walaupun sulit, namun beranggapan cukup bermakna untuk diupayakan, jika yakin dan percaya diri maka akan berhasil.”