(Taiwan , ROC) Konten revisi UU mobilisasi pertahanan nasional termasuk pembatasan media, kebebasan media dan pelajar berusia 16 tahun bergabung dalam mobilisasi pertahanan nasional memicu kontroversi, terdengar rumor ada kemungkinan mobilisasi akan tertunda. Komite Urusan Veteran Feng Shih pada hari Kamis ini (2/3) dalam sidang interpelasi merespons pertanyaan dari anggota kaukus DPP Wang Ting-yu berkaitan dengan revisi UU Mobilisasi Pertahanan Nasional.
Feng Shih-kuan mengatakan, “Saya mendukung mobilisasi pertahanan nasional sepenuhnya diaktifkan, yang dimaksud dengan diaktifkan adalah melibatkan semua orang dalam pembahasan, usai pembahasan berubah menjadi UU Mobilisasi Pertahanan Nasional, sangat cocok digunakan pada masa perang maupun masa damai. Kedua, saya ingin menyampaikan kepada masyarakat, apabila negara tidak memiliki persiapan ini, maka negara akan binasa, kita seharusnya wajib memperhatikan, pada masa-masa biasa semestinya memiliki persiapan yang matang.
Laporan khusus dari media Jepang Nihon Shimbun mengungkap rupa asli Taiwan, dalam pemberitaan pertama mengutip pernyataan dari militer bahwa hampir 90% veteran Taiwan setelah pensiun akan berpindah ke RRT, memberikan informasi militer nasional dengan imbalan uang, hal ini yang menjadi permasalahan terbesar dalam kalangan militer Taiwan menjadi mata-mata untuk RRT.
Ketua Komite Urusan Veteran Feng Shih-kuan(馮世寬) pada hari Kamis ini (2/3) saat menghadiri sidang interpelasi dipertanyai permasalahan ini, ia langsung mengutuk pemberitaan ini adalah omong kosong.
Media melanjutkan pertanyaan bahwa begitu banyak mainlanders atau pendatang pada akhir tahun 1945, apakah mereka inilah yang menjadi mata-mata komunis. Seketika Feng Shih-kuan mendamprat ini adalah omong kosong.
Kementerian Pertahanan juga menyampaikan, sumber informasi yang didapat dari media Jepang tidak jelas, pihak yang meragukan loyalitas militer dalam membela negara, laporan pemberitaan yang dibuat-buat dan verifikasi. Dalam beberapa tahun terakhir melakukan analisa tentang spionase, sejak awal sudah menemukan praktik kebiasaan militer RRT merekrut pensiunan militer untuk menyusun strategi kebijakan, diintegrasikan dengan pemeriksaan kasus spionase dan kuisioner klarifikasi, pemeriksaan lebih lanjut terhadap pihak riskan, serta menerapkan pembatasan dan penghapusan untuk menjaga kerahasiaan. Kementerian Pertahanan menekankan, tugas dan misi militer adalah membela negara, “suara tembakan senapan, hanya bisa mematikan bukan membuat militer menyerah”, menjadi sumpah militer dalam menjalani tugas melindungi rakyat.