(Taiwan, ROC) Sekjen Angkatan Darat AS, Christine Wormuth pada hari Selasa ini (28/2) menyampaikan, operasi militer amfibi sangat kompleks, meskipun masa 20 tahun terakhir ini, RRT terus menggelar operasi militer secara besar-besaran, namun masih dinilai sebagai misi militer yang sederhana. Ia beranggapan, hingga saat ini belum ada ancaman serangan militer amfibi RRT secara langsung terhadap Taiwan.
Wadah Pemikir (American Enterprise Institute) pada hari ini menggelar forum pembahasan isu “tidak hanya sebuah medan perang laut dan udara, tetapi peranan militer darat dalam menjaga stabilitas kawasan Indo Pasifik”, kegiatan yang mengundang Sekjen AD Christine Wormuth dan Komandan AD Samudra Hindia AS, Charles Flynn.
Perang Rusia Ukraina telah satu tahun berjalan, kondisi ini juga menarik perhatian pemerintah AS terhadap situasi perkembangan Laut Taiwan, akan tetapi Komandan Charles Flynn mengatakan, ia mengingatkan kepada masyarakat luar bahwa menyerang Taiwan, bukan hal yang gampang, bukan seperti yang dikira dengan mengandalkan pesawat tempur Xian-6 atau kapal selam, kapal tempur sudah mampu menyerang, akan tetapi perlu menyusun pasukan tempur; meskipun pasukan militer RRT yang siap tempur, masih harus menyeberangi selat Taiwan, setelah itu mendarat untuk merebut pulau. Charles Flynn mengatakan, dilihat dari tingkat kesulitan, operasi pendaratan militer bukanlah hal yang gampang, perlu profesionalitas, latihan yang terkoordinir dengan matang.
Charles Flyyn mengatakan, “RRT sedang berupaya dalam hal ini, menurut pandangan saya,bukan berarti tidak terkalahkan, masih ada pekerjaan yang perlu dilakukan, saat ini menjadi momen bagi kita untuk bersikap agresif menghadang.” Christine Wormuth mengimbau, masa 20 tahun terakhir ini RRT aktif memodernisasi militernya, akan tetapi operasi pendaratan militer amfibi sangat sukar, Ia menduga bahkan Presiden Xi Jing-ping pun meraguka Tentara Pembebasan Rakyat bisa menyelesaikan misi ini.
Christine Wormuth mengatakan, saya pribadi tidak beranggapan saat ini militer amfibi RRT dapat menyerang Taiwan dalam waktu dekat, akan tetapi AS tetap perlu siaga tempur untuk memenangkan perang. Ia beranggapan, cara menghindari perang adalah menyerukan kepada RRT dan negara kawasan regional bahwa AS memiliki kekuatan tempur untuk menaklukkan.
Christine Wormuth mengatakan, apabila terjadi konflik Laut Taiwan berkemungkinan tidak dapat menghentikan perang dalam waktu singkat, perang yang akan berkelanjutan, maka persediaan amunisi menjadi permasalahan besar. Dilihat dari perang Rusia Ukraina, AS perlu memperkuat persediaan produksi senjata, membantu Taiwan membangun perang asimetris agar Taiwan menjadi landak “porcupine” yang sulit ditaklukkan.
Ia menambahkan, apabila terjadi perang besar AS-RRT, maka daratan AS juga akan riskan menghadapi ancaman militer maupun serangan siber, seharusnya angkatan darat AS mempersiapkan diri.