History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Wawancara Sekjen NATO di Media Nikkei Asia, Tiongkok Jangan Mengubah Status Quo Selat Taiwan

  • 02 February, 2023
  • 鄭蕙玲
Wawancara Sekjen NATO di Media Nikkei Asia, Tiongkok Jangan Mengubah Status Quo Selat Taiwan
Wawancara Sekjen NATO di Media Nikkei Asia, Tiongkok Jangan Mengubah Status Quo Selat Taiwan (foto: CNA)

(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 1 Februari 2023, Sekjen Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) - Jens Stoltenberg menyampaikan, Tiongkok tidak memiliki alasan yang sah untuk melancarkan ancaman kepada Taiwan. Setiap upaya Tiongkok untuk mengubah status quo di Selat Taiwan akan berdampak serius, dan memiliki konsekuensi besar bagi keamanan regional bahkan global.

Dalam sebuah wawancara dengan media Nikkei Asia di Tokyo, Jepang, Jens Stoltenberg menyampaikan keprihatinannya terhadap retorika Tiongkok yang mengancam kelangsungan di Selat Taiwan. Ia juga menekankan pentingnya mencegah Beijing memanfaatkan kekuatan militernya untuk melancarkan ancaman.

Ia mengatakan, “Tiongkok tidak memiliki alasan yang sah untuk mengancam Taiwan. Aksi militer Tiongkok yang terus mengitari kawasan Taiwan, juga tidak akan menguntungkan pihak siapa pun. Upaya Tiongkok menggunakan kekuatan militer mereka untuk mengubah status quo akan menimbulkan konsekuensi serius bagi Asia Timur. Yang mana juga akan berdampak besar bagi para sekutu NATO.”

Pernyataan Jens Stoltenberg mencuat ke permukaan seiring dengan semakin khawatirnya pihak NATO terhadap pengaruh Beijing yang kian meluas. NATO yang beranggotakan 30 negara barat tersebut, untuk pertama kalinya menyertakan Tiongkok ke dalam laporan strategis mereka tahun lalu. NATO juga menyebut Tiongkok sebagai “tantangan” yang harus dihadapi negara-negara Eropa, terutama dalam dekade ini.

Jens Stoltenberg mengujar, “Tiongkok bukanlah musuh”. Ia menambahkan, negara anggota NATO masih akan terus terlibat kerja sama dengan Tiongkok, terutama dalam beberapa bidang, misal pengendalian persenjataan, isu perubahan iklim dan masalah-masalah lainnya.

“Penting adanya menghindari terjadinya perubahan status quo dan penggunaan militer oleh Tiongkok untuk mereunifikasi Taiwan,” terang Jens Stoltenberg

Dalam kondisi seperti demikian, NATO akan terus memperdalam hubungan kerja samanya dengan negara-negara Asia Pasifik, misal Australia, Jepang, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Sebelumnya, Jens Stoltenberg sempat bertemu dengan Presiden Yoon Suk-yeol, saat dirinya berkunjung ke Korea Selatan. Setelah itu, ia pun melanjutkan kunjungan ke Jepang dan bertemu dengan Perdana Menteri Fumio Kishida.

Dalam kunjungannya ke Negeri Sakura, Jens Stoltenberg berjanji akan memperkuat jalinan kerja sama antar NATO dengan Jepang. Ia menyampaikan, NATO menyambut baik rencana Jepang untuk meningkatkan anggaran pertahanan nasional mereka.

Di lain pihak, Jepang akan menjadi Tuan Rumah Pelaksana KTT G7 untuk tahun ini. “Jepang adalah sosok penting bagi komunitas dunia. Kami sangat senang melihat kepemimpinan Jepang dalam KTT G7 kali ini.”

Ketika menyinggung perihal perang Ukraina – Rusia yang telah berlangsung selama 2 tahun, Jens Stoltenberg menyampaikan, NATO sudah seharusnya merencanakan strategi yang lebih matang, mengingat belum ada niat perdamaian yang diperlihatkan oleh Presiden Rusia – Vladimir Putin.

Ia melanjutkan, NATO harus tetap bertahan dan memberikan dukungannya kepada Ukraina, mengingat perang di kawasan setempat masih terjadi setiap harinya.

Komentar

Terbarumore